Novel: A Way to Find You (Part 31)

- Penulis

Senin, 2 Desember 2024 - 09:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Sebelumnya: A Way to Find You (Part 30)

***

Novel: A Way to Find You (Part 31)

BAB 31

Giska tidak bisa mengendalikan diri. Rasa sedih, takut, dan khawatir meluap dari dalam hatinya. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya di pelukan Sekar. Seluruh tubuhnya sampai gemetar menahan sakit di dadanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Gis, Ya Allah, Gis, tenang dulu.” Sekar mengusap-usap punggung Giska. Edo yang dari tadi duduk di luar tenda, bergegas masuk setelah mendengar tangisan Giska. Ia ikut mengusap belakang kepala perempuan itu dengan prihatin. Pasutri tersebut membiarkan Giska menumpahkan air matanya sampai agak tenang.

“Coba, cerita ke kami, apa yang terjadi? Kenapa kamu bilang nggak bisa nyelametin Bima? Kamu ketemu sama dia?” tanya Sekar begitu tangisan Giska mereda.

Giska berusaha mengatur napas. Edo menyodorkan sebotol air mineral padanya. Setelah meminum air tersebut, Giska mulai menceritakan sepenggal-sepenggal perjalanannya di alam gaib barusan. Edo dan Sekar berusaha memahami perkataan Giska karena perempuan itu bercerita masih sambil sesenggukan.

Tepat setelah Giska berkata bahwa mereka harus segera pergi, mendadak terdengar suara angin ribut dari luar. Edo bangkit berdiri untuk melihat kondisi di luar tenda. “Wah, iyo, iki. Rasanya udah nggak bener. Kita harus cepet-cepet pergi dari sini.”

Dengan bantuan Sekar, Giska ikut bangkit berdiri untuk menengok keluar. Ia kaget begitu mendapati hari sudah gelap. “Jam berapa sekarang, Mbak?” tanyanya.

“Udah jam tujuh malem, Gis.”

Giska membelalak. Padahal, ia memulai perjalanannya ke alam gaib saat hari masih terang, sekitar pukul satu siang. Ia pun merasa berada di sana tidak lebih dari satu jam. Ternyata, perputaran waktu di sini tidak sama dengan di dimensi lain.

“Gis, untuk sementara, kita ikhlaskan Bima dulu, yo. Ki Suko tadi janji, kan, mau cari jalan lain? Sekarang, kita fokus selametin diri dulu, oke?” kata Edo sambil menepuk kedua bahunya.

Giska mengangguk. Kini, setelah kewarasannya pulih, ia tahu kata-kata Edo benar. Ketiganya pun segera membereskan barang-barang mereka dan turun dari gunung malam itu juga. Formasi masih seperti di awal. Edo berjalan paling depan, disusul oleh Giska, dan Sekar yang paling belakang.

“Kok, rasanya nggak nyampe-nyampe di pos satu, sih?” tanya Edo, mewakili pikiran Giska dan Sekar. Mereka sudah berjalan cukup jauh. Tadi, mereka sudah menemui pos dua di atas. Seharusnya, tinggal mengikuti jalur, dan mereka akan sampai di pos satu. Tapi, sampai saat ini belum ada tanda-tanda mereka akan tiba di sana.

“Gimana, sih, Mas? Tadi salah belok, nggak?” protes Sekar.

“Nggak, sumpah, Yang. Tuh, ada tanda ‘Blok C’.” Edo menyenteri papan penanda di pinggir jalur. Meski hanya mengandalkan cahaya dari headlamp, Edo yakin mereka tidak salah jalan.

“Ya udah, kita coba jalan lagi aja,” kata Giska.

Ketiganya pun lanjut berjalan. Suasana malam itu terasa cukup mencekam. Beberapa kali, mereka mendengar suara-suara aneh dan mencium bau-bau yang tidak wajar di sekeliling mereka. Angin juga masih berembus kencang, menambah kekhawatiran mereka bertiga.

“Astaghfirullahalazim!” seru Edo sesaat kemudian. Langkahnya terhenti, membuat para perempuan yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.

“Kenapa, Mas?” tanya Giska dan Sekar berbarengan.

“Kita ketemu ‘Blok C’ lagi!”

Semuanya kontan membeku di tempat. Cahaya senter secara serempak menyorot papan tanda yang tertancap di tepi jalur. Benar saja, tulisan ‘Blok C’ tertulis dengan jelas di sana, padahal mereka sudah melewati papan itu tadi.

“Wah, kita disesatin, nih,” ucap Edo. “Katanya, tadi suruh cepet-cepet turun. Begitu diturutin, kok malah ditahan di sini?” gerutunya kesal.

“Hus, jangan ngomong gitu!” tegur sang istri. Di situasi seperti ini, mereka tidak boleh gegabah, apalagi bicara sembarangan. Bisa-bisa, mereka menemui halangan yang lebih dari ini.

Giska sebenarnya setuju dengan Edo. Dalam hati, ia mengumpat Putri Sriwati yang masih saja mempermainkannya. ‘Maunya apa, sih?’ batin perempuan itu. Bukannya takut, ia justru jengkel setengah mati.

“Kita jalan terus aja sambil banyak berdoa. Jangan jalan jauh-jauh, oke?” Sekar memberi komando.

Ketiganya melantunkan doa dalam hati dan mulai melangkah sambil merapatkan jarak. Mereka tidak mau terjebak di hutan ini semalaman, jadi mereka tidak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari sana, tiba-tiba Giska mendengar sesuatu dari arah kirinya. Suara geraman rendah yang disusul dengan langkah binatang berkaki empat. Giska merasa mengenali geraman tersebut.

‘Mbah Wiro?’ pikirnya tidak yakin.

Seolah menjawab panggilan perempuan itu, sesosok bayangan putih muncul di depan mereka. Namun, hanya Giska yang bisa melihatnya. Bayangan tersebut membentuk sosok harimau, tapi kali ini ukurannya normal, tidak sebesar yang Giska lihat di alam lain.

“Mas Edo, biar aku yang di depan. Kayaknya aku tahu jalan,” kata Giska mantap. Dengan bantuan Mbah Wiro, ia yakin mereka bisa keluar dari jeratan setan itu.

Giska terus berjalan mengikuti arah yang dituju si harimau putih. Tidak terasa, akhirnya mereka tiba di pos satu. Semuanya mengembuskan napas lega sambil mengucap syukur.

‘Kalian sudah aman sekarang. Teruslah berjalan.’

Bisikan itu bergema di kepala Giska. Ia mengangguk dan tersenyum. ‘Terima kasih banyak, Mbah,’ ucapnya dalam hati.

Tepat pukul satu malam, mereka bertiga akhirnya tiba dengan selamat di basecamp. Dengan itu, berakhirlah perjalanan pertama Giska dalam misi menyelamatkan sang suami.

***

Dini hari berikutnya, Giska sudah kembali ke Tangerang Selatan dengan naik kereta. Ia langsung pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Setibanya di sana, ia disambut oleh sang ibunda. Giska lagi-lagi menangis di pelukan wanita terkasih itu. “Aku gagal, Bun. Aku istri yang nggak becus! Aku nggak bisa berbuat apa-apa untuk nyelametin Mas Bima,” raungnya histeris.

Baca Juga:  Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 14)

“Ssttt, jangan ngomong gitu. Kamu udah banyak berjuang, Sayang.” Hesti ikut menitikkan air mata, tidak tega melihat putrinya yang begitu hancur. Dipeluknya tubuh Giska erat-erat. “Kita minta tolong sama-sama ke Jeng Asih nanti. Bunda yakin masih ada jalan untuk menolong suami kamu.”

Giska tidak mau menunggu sampai matahari terbit. Begitu selesai mandi dan berkemas, ia langsung berangkat ke rumah sakit seorang diri. Hanya ada Kinar yang menemani Bima di sana. Giska sudah terlalu lelah untuk menangis, jadi ia hanya bergelung lesu dalam pelukan sang ibu mertua. Kinar memahami kondisi menantunya itu. Kurang lebih, ia telah mendengar hasil perjuangan Giska kemarin. Tanpa banyak bertanya, ia membelai kepala menantunya dengan penuh sayang.

“Mas Bima gimana, Mah, selama aku tinggal?” tanya Giska lirih.

“Dia masih gitu-gitu aja, belum bangun juga,” jawab Kinar sambil menghela napas. “Tapi, kemarin sore, dia sempet gerak-gerak kayak nggak nyaman gitu.”

Giska berpikir sejenak. Menurut prediksinya, hal itu mungkin terjadi bersamaan dengan momen di mana ia bertemu suaminya di alam sana. Entahlah, ia tidak tahu lagi. Kepalanya pusing.

“Tidur, Neng. Kamu pasti capek. Nanti Mamah bangunin kalau ada apa-apa.”

Giska tidak bisa menolak. Kelopak matanya terasa begitu berat. Sejak kemarin, ia belum tidur. Selama perjalanan di kereta pun ia tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Setelah menyaksikan secara langsung bahwa suaminya masih bernapas, barulah ia membiarkan dirinya beristirahat.

Sementara itu, beratus-ratus kilometer jaraknya dari tempat Giska berada, Ki Suko tengah bersemedi mencari pencerahan. Ia mengurung diri semalaman di dalam sebuah ruangan khusus yang ada di padepokannya. Ruangan kecil berukuran tiga kali dua meter tersebut tidak diterangi oleh lampu sama sekali. Hanya ada sebatang lilin merah yang menyala di hadapan si kakek.

Ki Suko duduk bersila, entah sudah berapa jam di dalam sana. Ia mencoba mencari cara untuk menyelamatkan seorang pemuda yang tengah tertawan di belantara Gunung Sumbing. Permasalahan kali ini cukup serius karena lawannya bukan dari bangsa jin tingkat rendah seperti yang biasa ia temui.

Setelah negosiasinya dengan Putri Sriwati mengalami kegagalan kemarin, Ki Suko harus menemukan jalan lain. Ia sempat berdiskusi juga dengan Mbah Wiro. Sosok harimau putih itu merupakan pendamping setia yang telah diwariskan turun temurun dari kakek buyutnya.

Beberapa jam kemudian, usai melaksanakan salat sunah, Ki Suko merasakan kehadiran Mbah Wiro. Sosok sesepuh itu sepertinya membawa sebuah kabar baru.

“Ada yang mau datang ke sini. Aku sudah menemuinya tadi. Dia ingin bicara denganmu,” kata Mbah Wiro dalam bahasa Jawa kuno.

Ki Suko mengangguk. Ia kembali ke ruang pribadinya untuk membuka gerbang mediasi. Tak lama kemudian, ia merasakan energi kuat datang menghampirinya. Energinya cukup positif, sehingga Ki Suko sedikit menurunkan kewaspadaannya.

Dalam pandangan batinnya, Ki Suko melihat sesosok wanita cantik jelita yang amat mirip dengan Putri Sriwati. Gerak-geriknya tampak halus dan anggun, begitu juga tutur katanya. Keduanya saling bertukar salam dengan santun.

“Kenalkan, aku adalah Putri Indrawati, penjaga Gunung Sindoro. Aku dengar, adikku Sriwati telah membuat masalah.”

***

Giska merasa tidak punya semangat hidup. Tubuhnya lemas, pikirannya setengah kosong, dan ia merasa lelah bahkan hanya untuk menarik napas. Matanya nanar menatap sang suami yang kini harus mengenakan selang sebagai alat bantu makan karena lelaki itu belum bangun juga.

“Apa yang harus kulakukan, Mas? Aku harus gimana lagi?” tanyanya lirih. Ia menggenggam tangan sang suami yang terasa dingin. Tubuh lelaki itu diam tak bergerak seperti tanpa kehidupan. Kekosongan yang mendera hatinya membuat Giska merasa hampir gila. Kalau bisa, ia ingin menyusul suaminya lagi ke alam sana. Ia akan menyeret lelaki itu pulang, bagaimana pun caranya.

Sore ini, ia sedang menunggu kedatangan Jeng Asih. Ia berdoa semoga orang pintar asuhan Ki Suko itu membawa sedikit kabar baik untuknya. Giska membutuhkan suatu harapan untuk berpegangan, untuk menjadi alasannya terus berjuang. Kalau memang ada satu saja cara untuk menyelamatkan sang suami, ia pasti akan melakukannya. Meski harus bertaruh nyawa, Giska tidak akan ragu.

Di tengah kegundahan hati, Naura tiba-tiba mengirim pesan singkat pada Giska. Manajernya itu mengabari bahwa pihak Lovela mendadak minta bertemu tiga hari lagi. Dengan tak acuh, Giska hanya membalas “oke”, kemudian langsung mengirimnya. Ia sedang tidak bisa memikirkan masalah pekerjaan sekarang.

Pintu kamar Bima diketuk. Orang yang Giska tunggu akhirnya datang. Jeng Asih masuk setelah dipersilakan. Perempuan itu langsung bertanya begitu berhadapan dengan Giska, “Mbak, Mas Bima kemarin bawa pulang gelang merah nggak habis dari pendakian?”

“Hah? Gelang merah apa?” Giska mengerutkan kening.

“Ki Suko bilang, Mas Bima nyimpen gelang pemberian dari Putri Sriwati. Warnanya merah delima. Gelang itu adalah tali jiwo, yang bikin Putri Sriwati bisa ngikutin ke mana pun Mas Bima pergi dan juga ngikat Mas Bima di sampingnya.”

Giska menggeleng. “Saya nggak tahu, Jeng. Saya nggak pernah lihat Mas Bima pegang gelang itu.”

“Coba cari di rumah, Mbak. Pasti ada.”

Giska bergegas menelepon Hesti yang masih tinggal di rumahnya. Ia meminta sang ibunda untuk mencari gelang yang dimaksud oleh Asih. “Coba cari di kamar aku, Bun. Bi Tami masih di situ, kan? Minta Bi Tami bantuin.”

Giska menunggu dengan harap-harap cemas. Telepon masih belum dimatikan. Ia bisa mendengar bundanya dan Tami menggeledah seluruh isi kamar.

Setelah beberapa saat, tiba-tiba Hesti berseru, “Ketemu, Gis! Masih ada di dalam salah satu tas gunung ini.”

***

Selanjutnya: A Way to Find You (Part 32)

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Part 30)

Berita Terkait

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:41 WIB

Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:38 WIB

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terbaru