Alvindra yang bodo amat dengan tidak adanya istri Dito di rumah langsung aja mengeluarkan ponselnya. Baginya, dengan tidak ada perempuan yang ia katagorikan sebagai perempuan lampir maka dia tidak perlu meregulasi emosi atas sikap Rere yang tidak ramah pada sahabat-sahabat Dito.
“Hei …,” teriak perempuan saat panggilan grup video terhubung menampilkan sosok perempuan bersama lelaki di dalam ruangan.
Alvindra hanya mengangkat dagu sebagai balasan berbeda dengan Dito yang membalas ramah. “Hei, Ta, Zaf, bagaimana kabar kalian?”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Better. lo berdua enggak ada perjalanan bisnis atau liburan ke NY?”
“Ck, pertanyaan seharusnya itu kapan kalian mau baik dan tinggal di Indo?” tanya Alvindra.
“Masih betah di sini,” balas Tita.
“Eh, Dit, sorry kami tidak jadi pulang dan datang ke pernikahan lo.”
Sebelum menanggapi permintaan maaf Zafran, Dito lebih dahulu mengucapkan terima kasih dengan gerakan mulut tanpa suara kepada pembantu yang menyuguhkan cemilan dan minuman untuknya serta Alvindra.
“Santai aja. Percuma juga kalau gue paksa lo kasih tahu masalah lo sama Rere apaan kayaknya enggak akan buka mulut juga,” jawab Dito tanpa beban. Bagi lelaki itu cukup tahu saja bahwa mantan istri Zafran bukan Rere, sepertinya apapun masalah keduanya bukan hal yang besar bagi hubungan pernikahannya.
Zafran tidak menimpali lagi dan membicarakan topik itu yang akan menganggu komunikasi mereka lewat penggilan video langsung tersebut.Topik seputar bisnis adalah hal yang tidak jauh dari perbincangan empat orang yang bersahabat itu.
Sekitar satu jam mereka melakukan video call akhirnya usai. Dito pun menyuruh sahabatnya mencicipi minuman dingin dan hidangan ringan yang disuguhkan pekerja di rumahnya.
“Istri lo dah pulang tuh, gue bentar lagi mau balik,” beritahu Alvindra ketika melihat kehadiran Rere memasuki rumah.
“Re, kamu akhirnya pulang.” Senyum lelaki itu mengembang ketika menyambut istrinya yang akhirnya kembali pulang.
“Aku mau ambil beberapa barang. Besok Papa-Mama bilang mau makan malam di sini, aku akan datang sore. Kamu yang urus makanannya atau aku nanti pesan dari restoran saja?” rentetan kalimat Rere membuat sedikit senyum Dito mengembang. Kedua mertuanya itu sangat membantu ia bisa membawa istrinya pulang dan kembali bicara dengannya.
“Aku yang urus,” jawab Dito
Tidak mengucap apapun lagi, Rere kemudian pergi ke kamar yang ia tempati. Perempuan dengan wajah yang minim ekspresi itu pun tanpa basa-basi bersusah payah menyapa sahabat suaminya. Hal yang membuat Alvindra hanya menggelengkan kepala tidak heran. Maka bolehkan jika Alvindra menggolongkan perempuan itu dalam katagori demit hidup.
Dito ingin sekali menyusul Rere, tapi karena masih ada Alvindra yang katanya mau balik membuat lelaki menangguhkan niat menemui Rere.
“Ada masalah? Lupa sih, lo sama bini lo itu mana pernah akur,” kata Alvindra saat Rere sudah tidak terlihat dan netranya beradu pandang dengan Dito.
“Cuma perlu sabar dikit lagi. Cuma perlu bikin Rere suka gue dan pernikahan ini akan bahagia selamanya.”
Alvindra hanya menggendik bahu antara apatis dan juga mengamini keinginan Dito yang seakan muskil terwujud.
Tidak ada sepuluh menit dari Rere memasuki kamarnya, bahkan Dito dan Alvindra belum duduk kembali tetapi Rere sudah keluar lagi membawa tas baju ukuran kecil. Bisa Dito pastikan jika itu adalah sebagian barang milik istrinya.
“Re, mau kemana lagi?” tanya Dito yang akan mencegah istrinya pergi lagi justru tangannya di tahan Alvindra sehingga tidak bisa beranjak.
Rere yang pada dasarnya tidak mempedulikan sekitarnya hanya terus melangkah keluar rumah milik lelaki yang berstatus sah di akta nikah untuknya.
“Sikap Rere lo yang seperti itu masih bisa lo terima?” geram tertahan Alvindra pada Dito.
Dia sudah memperingatkan sahabatnya untuk tidak melanjutkan niat menikahi wanita tanpa perasaan seperti Rere tetapi Dito tetap aja berpendirian teguh. “Itu cinta apa bego?” lanjut Alvindra dengan sarkas.
Sebagaimana dilema Dito bahwa ia tidak bisa memutus pertemanan yang terjalin sejak kecil dengan Alvindra dan tidak bisa melepas Rere, penghuni hatinya begitu saja, Dito hanya menghela napas saja.
Alvindra yang sadar bahwa sudah ikut campur cukup dalam kemudian ia menghempaskan pengelangan tangan Dito.
“Tauuk! Lo, Zafran, dan Tita sama-sama nggak warasnya kalau sudah jatuh cinta,” kata Alvindra yang langsung mengambil ponsel serta clutch bag miliknya kemudian pamit pergi dengan nada tidak santai pada Dito.
Halaman : 1 2