Novel : Bertahan di Atas Luka Part 26 : Amira Dzakiya
“Aku nggak tahu, Mas. Menurut kamu gimana?” Aku sengaja memancingnya.
Mas Bayu tidak menjawab. Ia memandangku lekat. Wajahnya seperti ragu ingin mengatakan sesuatu.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia bersuara. “Kamu masih mau di sini? Masih kangen sama Ibu dan si kembar? Atau kamu takut kalau nanti kita bertengkar lagi?” tanyanya hati-hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Boleh?” tanyaku sambil menahan senyum.
“Kalau aku larang, nanti kamu marah lagi. Kalau emang masih mau di sini, nggak apa. Aku bisa pulang duluan, nanti kamu nyusul ….” Tiba-tiba ia berhenti, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, “kamu masih mau kan pulang ke Riyadh?”
Aku tak langsung menjawab. Kuraih piring berisi somay dan menyuap makanan dari ikan tenggiri itu. Rasa kenyal daging ikan yang nikmat dan sambal kacang pedas melebur dalam mulutku.
“Ya sudah, aku nyusul, ya, pulangnya? Aku masih mau jalan-jalan sama adik-adik dan ngobrol-ngobrol sama Marisa. Oya, kita belum ke rumah Marisa untuk lebaran, Mas.” Aku meraih gelas air putih dan meneguknya. “Mumpung kamu masih di sini, kita ke sana, yuk? Besok?”
Mas Bayu mengiyakan. Kami menghabiskan sisa somay sambil menikmati senja yang semakin temaram. Tak ada yang berbicara, hanya keheningan yang menemani. Aku teringat harus menelepon Marisa untuk mengabari kalau kami akan berkunjung besok. Setelah saling mengucapkan selamat Idulfitri, aku memberitahu Marisa tentang niat kami. Syukurlah ia tidak ada rencana pergi.
Esok harinya, kami tiba di rumah Marisa menjelang siang. Rumah Marisa yang terletak di pinggir kota Jakarta, terlihat sangat nyaman. Bagian depan dilindungi oleh pagar tinggi berwarna hitam yang sangat kokoh. Bangunan abu-abu bertingkat dua dengan teras luas dan dilengkapi beberapa sofa serta meja kaca, bisa digunakan untuk menerima tamu. Bunga beraneka warna menghiasi taman yang dirawat dengan baik.
Marisa dan Arga menyambut kami dengan hangat. Meskipun tahu cerita hubunganku dan Mas Bayu yang sedang tidak baik-baik saja, Marisa tetap ramah menyapa suamiku. Kami berbincang di ruang tamu yang sejuk dan tak kalah estetik dengan teras di depan rumah. Sofa besar dan halus ditata dengan apik, dilengkapi meja kaca mewah. Berbagai toples kaca berisi kue-kue lebaran tertata rapi di sana. Di dinding abu-abu muda, tergantung foto keluarga Arga, Marisa, dan kedua putra mereka. Aku harus mengakui, Marisa dan Arga memiliki selera yang tinggi soal penataan rumah.
Karena sudah tiba saat makan siang, tuan rumah lalu mengajak kami untuk menikmati hidangan yang Marisa siapkan.
“Kamu mau nasi merah atau ketupat, Sayang?” tanya Marisa sambil menatap Arga mesra.
“Kali ini boleh ya, aku bandel? Ketupat aja, mumpung lebaran,” jawab Arga penuh harap.
Marisa pura-pura mendelik, tapi tetap mengambilkan ketupat untuk suaminya.
“Makasih, Sayang. Janji deh, abis ini aku jogging supaya gulanya keluar lagi.” Arga menerima piring berisi ketupat dan dengan semangat melengkapinya dengan berbagai lauk pauk.
Aku melirik Mas Bayu yang pura-pura sibuk mengambil makanan.
“Aku emang jaga banget pola makan Arga sejak dia kena diabetes dua tahun lalu. Diet ketat, deh!” Marisa menjelaskan perihal sakitnya Arga.
“Iya. Perawat kalah galak, Mir. Daripada ngomel sepanjang hari, mending nurut aja deh!” Arga terkekeh.
“Semuanya kan untuk kebaikan, Ga! Gue nggak mau jadi janda muda kalau kamu meninggal gara-gara diabetes.” Marisa tergelak, membuatku dan Mas Bayu ikut tertawa.
Sungguh romantis hubungan sahabatku itu.
Sambil makan, Mas Bayu dan Arga asyik berbincang tentang pekerjaan masing-masing. Aku lebih banyak mendengarkan. Setelah selesai, kami kembali ke ruang tamu, menikmati hidangan kue-kue lebaran. Marisa lalu mengajakku ke ruang keluarga.
“Gimana hubungan lo sama Bayu?” tanyanya sambil merebahkan tubuh di sofa besar.
Aku mengangkat bahu.
“Ya nggak gimana-gimana, Sa, tapi kita udah ngobrol sedikit,” jawabku singkat.
“Alhamdulillah. Jadi lo berubah pikiran?”
“Belum tahu. Gue masih ragu, apa laki gue beneran udah berubah atau hanya karena gue ngancam mau pisah,” ujarku pelan.
“Lo nggak boleh gitu, Mir! Siapa tahu emang Bayu udah berubah beneran. Dia kan cinta banget sama lo. Kenapa sih nggak kasih dia kesempatan?”
Aku tak menjawab. Marisa tidak bisa merasakan semua rasa kecewaku selama bertahun-tahun. Dia beruntung mendapatkan suami yang sangat perhatian. Arga tipe suami yang mengerti istri. Satu hal lagi, mereka sudah dikaruniai dua orang anak. Sungguh, aku iri melihat hidup sahabatku itu. Meskipun sama-sama bekerja, mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul saat liburan.
“Mir!” Suara Marisa menyadarkanku.
Aku membetulkan jilbab coklat mudaku, “Eh, apa, Sa?”
“Kenapa lo nggak ngasih kesempatan Bayu buat buktiin kalau dia benar-benar berubah? Nothing to lose, Neng! Kalau nanti ternyata dia kembali ke Bayu yang dulu, nah lo bisa beneran minta pisah. Lo juga nggak boleh terlalu sensitif, Mir. Pikiran kita perempuan, beda sama laki-laki,” tutur Marisa panjang lebar.
“Ngomong emang gampang, Bu! Lo nggak ngalamin soalnya. Hidup lo tuh sempurna. Arga suami yang sangat perhatian dan ngertiin lo banget,” cetusku.
Halaman : 1 2 Selanjutnya