Novel : Bertahan di Atas Luka Part 29
Amira Dzakiya
Sampai hari pernikahannya, Pras memang tidak pernah mengetahui isi hatiku, bagaimana perasaanku padanya. Semua aku simpan rapat-rapat. Aku berusaha melupakannya dengan kembali fokus bekerja dan mulai menyibukkan diri dengan mendatangani kajian ustaz di masjid. Hingga akhirnya aku bertemu Mas Bayu. Pesona laki-laki berhidung mancung dengan dagu terbelah itu mampu meredam rasa cintaku yang tak sampai. Namun, tanpa kusadari, ada satu kesamaan antara Mas Bayu dan Pras: keduanya sama-sama bermata sipit.
Kini, keadaan menjadi berbeda. Rumah tanggaku yang sedang bermasalah dan Prasetya yang ditinggal Safira, seakan membuka kembali kesempatan tumbuhnya cinta yang pernah layu. Sejak bertemu di rumah Marisa, bayangan wajah Pras kembali menghantuiku, membuka kenangan lama yang terpendam. Lelaki itu tidak berubah, masih seperti dulu. Dia hanya terlihat lebih kurus, seperti saat kami bertemu di bandara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalau mengikuti kata hati, ingin rasanya aku menanyakan apakah Pras masih mencintaiku, tetapi untungnya akal sehatku masih bekerja dengan baik. Aku memang pernah mencintai Pras—di masa lalu—dan Pras pun mencintaiku. Namun saat ini, cintaku lebih dalam kepada Mas Bayu. Walaupun pernikahan kami sedang di ujung tanduk, aku tahu Mas Bayu tetap berusaha untuk mempertahankannya.
Menjelang keberangkatannya ke Riyadh, sikap suamiku sedikit demi sedikit mulai berubah. Mas Bayu lebih banyak mengalah dan lebih perhatian. Aku tentu saja menyambut baik perubahan itu, hingga suatu malam Mas Bayu pulang dengan wajah muram. Ia baru saja dari rumah orang tuanya.
“Kenapa, Mas? Kok diam aja?” Aku menyapanya dan ikut duduk di sofa ruang tamu.
Mas Bayu hanya menggeleng tanpa berkata apa-apa. Terdengar helaan napas panjangnya seperti menyimpan beban yang berat.
“Mas?”
Mas Bayu menggenggam erat tanganku, membuat aku semakin bertanya-tanya.
“Aku nggak apa-apa …, hanya capek aja. Tadi macet,” tuturnya sambil mengembuskan napas keras. Kutatap matanya, mencari kejujuran di sana.
“Kita udah janji akan saling terbuka, kan? Mas lupa?” kataku mengingatkan.
Ia menyandarkan tubuhnya dan tampak berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk bicara.
“Tadi Mama tanya kabar kamu—”
“Terus?” tanyaku tak sabar.
“Sabar dong, Mir! Biar aku bicara dulu,” tukas Mas Bayu gusar.
Aku diam. Mencoba menahan diri.
“Mama nanya kabar kamu, terus akhirnya nanya gimana terapi hamilnya.” Lelaki itu memalingkan wajahnya dariku.
Aku tersentak. Meskipun sudah mengira kalau akan muncul pertanyaan seperti ini cepat atau lambat, aku tetap masih belum siap untuk menerima.
“Lalu kamu jawab apa?” balasku dengan malas.
“Ya aku bilang aja apa adanya kalau selama puasa terapinya berhenti dulu. Nanti setelah lebaran akan lanjut lagi.”
“Berarti mereka masih mengharapkan cucu dari kamu kan? Masih belum bisa nerima kalau aku belum juga bisa hamil,” ucapku getir.
“Bolehkan mereka pingin cucu, Mir? Masih mengharap suatu saat kita punya anak. Doa orang tua itu kuat, lho.”
“Ya boleh, Mas. Kamu pikir hanya kamu dan mereka yang ingin? Aku dan keluargaku juga, Mas! Hanya saja, kalau Allah belum memberikan, aku harus bagaimana?” Suaraku mulai bergetar menahan desakan air mata.
“Kita ke dokter lagi setelah lebaran ini, ya?”
Aku bergeming. Tiba-tiba saja aku merasa sangat letih. Lelah dengan cobaan yang tak kunjung selesai. Baru saja aku merasa sedikit bahagia karena Mas Bayu mulai berubah, sekarang semuanya seolah kembali ke awal lagi karena aku belum juga bisa hamil. Rasa lelah, tertekan, dan sedih membuatku ingin berteriak.
“Ternyata setelah nggak kerja, aku belum juga bisa hamil, kan? Malah tambah stress karena nggak ada kegiatan!” kataku jengkel.
“Kamu masih nyalahin aku karena ngelarang kamu kerja? Masih belum ikhlas?” tanya Mas Bayu dengan wajah merah padam.
Tiba-tiba ulu hatiku terasa sangat nyeri. Ada rasa mual yang menggigit. Aku menarik napas untuk menahan sakit yang menusuk.
“Kamu kenapa, Mir?” Mas Bayu tampak kaget melihatku.
Aku hanya sanggup meringis sambil menekan perut bagian atas. Air mata menetes satu-satu membasahi pipi. Air mata sakit dan kecewa yang bertumpuk menjadi satu.
“Aku nggak apa-apa,” bisikku lemah sambil mencoba berbaring di sofa.
Mas Bayu segera mengambil minyak gosok, obat lambung, dan air putih hangat lalu memberikan padaku. Setelah itu ia menggosok perutku dengan lembut.
“Asam lambung kamu kumat, ya?” tanyanya penuh perhatian.
Aku mengangguk lemah.
“Gara-gara kita ngomongin soal kehamilan?”
“Semuanya, Mas. Masalah kita, masalah anak, semuanya! Aku capek, Mas!” jeritku tertahan. “Aku nggak tahu lagi harus gimana!” Kubiarkan air mata membasahi pipi.
“Tenang dulu, Mir! Kita bisa selesaikan semuanya pelan-pelan.”
“Makanya, aku minta cerai karena pasti orang tuamu mau kamu nikah sama perempuan yang bisa ngasih kamu anak!” ucapku gusar. Entah darimana ide itu bisa muncul di benakku. Mungkin ketakutan yang bersarang di alam bawah sadar, ketakutan kalau suatu saat Mas Bayu akan meninggalkanku karena masalah ini, akhirnya muncul begitu saja ke permukaan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya