“Amira! Kamu ngomong apa, sih?” Rahang Mas Bayu mengeras. Ia menjauhkan diri dariku. “Mama sama papaku nggak sepicik itu. Kamu jangan asal nuduh!” Mata Mas Bayu berkilat tajam.
Aku terisak.
Mas Bayu masih diam. Hanya terdengar napasnya yang memburu. Ia terlihat berusaha menenangkan diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Aku minta maaf kalau sudah membuat kamu sedih lagi. Suka nggak suka kita memang harus ngomongin ini, Mir! Memang ada rasa kecewa karena kita belum juga punya anak …, dengarkan aku dulu!” sentak Mas Bayu ketika melihat aku akan menjawab.
“Aku rasa wajar kan kalau aku marah? Kamu juga pasti sedih dan marah karena masalah ini. Kita sudah delapan tahun nikah, tapi Allah belum memberikan kesempatan kita untuk punya anak. Bukan salah kamu. Nggak ada yang nyalahin kamu, Mir! Siapa tahu memang aku yang bermasalah. Masalah kita memang cukup banyak, tapi bukan berarti kita harus nyerah dan kamu minta cerai. Kita masih bisa selesaikan semuanya.” Suara Mas Bayu berubah lembut.
Ia menoleh dan menatapku.
“Kamu mau kan mengurungkan niatmu untuk berpisah?” tanyanya memohon. “Aku nggak akan menceraikanmu hanya karena masalah anak. Dan orang tuaku pun tidak akan memaksaku untuk menikah lagi. Iya kalau istri baruku nanti bisa hamil, kalau nggak, berarti kan aku yang bermasalah.
Allah telah memberikan istri yang salihah dan sangat mencintaiku, aku akan menjaganya sampai maut memisahkan. Soal keturunan, kita akan tetap berusaha dan berdoa, kalau pun nanti masih tidak berhasil juga, kita bisa adopsi,” lanjut Mas Bayu tegas.
Aku tertegun sejenak, lupa pada rasa sakitku. Perlahan kucoba duduk dengan bersandar di kursi. Rasa mual dan melilit sudah agak mereda. Aku masih tidak percaya apa yang kudengar barusan. Seorang Bayu Ramadhan, mau mengalah dan berbicara terbuka. Sungguh sebuah kemajuan pesat! Jujur, aku sangat bersyukur melihat perubahan Mas Bayu, tapi sekali lagi, masih ada rasa ragu kalau semua ini hanya sementara saja.
“Kamu sungguh-sungguh dengan kata-katamu, Mas?” tanyaku ragu. “Lalu kenapa selama ini kamu seolah-olah tidak butuh aku? Selalu memutuskan apa-apa sendiri tanpa mengajakku berembuk? Juga kata-kata yang menyakitkan dan menganggapku berlebihan?” Aku tak kuasa menahan diri untuk bertanya.
Mas Bayu bergeming.
“Aku capek, Mir! Mau mandi dulu. Kamu udah makan? Mau makan di luar?” tanyanya mengalihkan perhatian.
Aku mengembuskan napas dengan keras. Mulai lagi. Mas Bayu mulai menutup diri lagi. Ia berdiri dan pergi meninggalkanku dalam kebingungan.
-bersambung-
Ikuti novel terkini dari Redaksiku di Google News atau WhatsApp Channel
Halaman : 1 2