Novel : Binar Kedua (Part 4)

- Penulis

Sabtu, 12 Oktober 2024 - 12:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Home Care

“Bagas! Bagas!” teriak istri Projo sambil menggoyang-goyangkan badan Bagas.

Dokter Iqbal dan Kania segera mengangkat tubuh Bagas dan membaringkan di sofa. Dokter Iqbal menekan pergelangan tangan Bagas untuk mengecek nadinya. Kania mengangkat kaki Bagas dan mengganjalnya dengan bantal hingga lebih tinggi dari kepala. Dokter Iqbal melonggarkan pakaian Bagas. Ia kemudian mendekatkan botol minyak kayu putih di dekat hidung Bagas. “Bagas, Bagas” panggil dokter Iqbal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Suster! Lakukan sesuatu jangan hanya diam!” seru Projo.

“Sabar, Pak, sudah ditangani dokter Iqbal. Hanya pingsan, kok,” ujar Kania.

“Hanya pingsan gimana!? Kalau ada sesuatu pada anakku, aku laporkan kalian!” ancam Projo.

Bukan hanya sekali Kania menghadapi pasien seperti Projo. Kalau menuruti kata hatinya, ingin rasanya ia membalas omongan pedas Projo. Namun, Kania menyadari, ia seorang perawat. Ia harus mampu menerapkan karaktere caring yang telah ia pelajari. Caring itu, bukan sekedar peduli, tapi layanan maksimal yang diberikan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien.

Kania menarik napas untuk menepikan rasa jengkelnya. Dokter Iqbal menoleh sesaat, wajahnya tetap datar. Ia masih mencoba menyadarkan Bagas.

Tiba-tiba napas Projo tersengal. Napasnya pendek, seolah ada yang mencekik lehernya. Kania segera meraih telapak tangan Projo. Tangan itu gemetar dan sangat dingin. Tangannya basah oleh keringat dingin. Kania memberikan ketukkan ringan di telapak tangan Projo untuk mengalihkan kepanikan yang dialami ayah Bagas itu.

 “Tarik napas, Pak, keluarkan pelan-pelan lewat hidung.” Kania memberi instruksi. Projo berusaha mengikuti instruksi Kania. “Bagus, Pak!” Kania memuji usaha Projo. Napas Projo mulai teratur. “Okey, semuanya akan baik, Pak.” Kania tersenyum ketika Projo mampu menguasai kepanikannya.

“Bagas sudah sadar, Pak.” Kania menoleh sesaat ke arah Bagas. Wajahnya tak sepucat tadi. Mungkin teh hangat dan pijatan ibunya yang membuat wajah itu terlihat lebih segar.

Kania menaruh bantal di belakang punggung Projo agar duduknya lebih nyaman. Projo mulai mampu menguasai dirinya.

“Bagaimana hasil EKGnya?” Dokter Iqbal memasang stetoskop pada telinga dan menempelkan membran diafragma di dada Projo.

“Bagus, Dok. Tidak ada masalah dengan jantungnya,” ujar Kania setelah melihat rekap medisnya Projo

“Apa Bapak sering mengalami seperti ini?” Dokter Iqbal melepaskan earpieces stetoskopnya.

“Enam bulan terakhir, Dok.” Istri Projo menanggapi pertanyaan dokter Iqbal. “Sejak kami mengalami sedikit masalah dengan usaha kami.”

“Yo, ndak karena itu!” ujar Projo ketus. Matanya tajam melihat isterinya. Ia terlihat tidak suka dengan perkataan istrinya.

“Okey, Pak, kita lihat besok. Jika kondisi stabil, tindakkan bisa kita lakukan besok,” ujar dokter Iqbal. Ia berusaha mengalihkan pembicaran. Ia tidak ingin pertanyaannya menimbulkan perselisihan Projo dengan istrinya. Seulas senyum ia berikan untuk meredakan ketegangan Projo. Namun, Projo hanya menjawab singkat. “Ya.”

“Pak, saya tensi dulu, yah,” ujar Kania setelah dokter Iqbal pergi.

“Buat apa! Tadi di UGD sudah!” Projo keberatan.

“Bapak barusan terkena serangan panik,” kata Kania sambil tangannya menyiapkan alat tensi. “Saya butuh data untuk melengkapi berkas, Bapak.” Kania berusaha memberikan senyum terbaiknya.

“Nanti saja!” Projo menjauhkan tanganya dari Kania.

“Bapak nggak bakal sembuh, jika nggak mau nurut.” Bagas mendekati Projo.

“Nggak papa, Mas, nanti saja.” Kania membereskan alat tensi. “Saya pemisi dulu,” ujar Kania.

Kania baru saja merekap catatan medis saat Bagas mendekati meja nurse station. “Maaf Suster ….” Mata Bagas melihat sekilas name tag di dada Kania. Bagas bisa cepat membaca name tag Kania karena gadis itu sedang duduk di belakang meja nurse station. “Maaf suster Kania atas sikap Bapak.” Sikap santunnya membuat Kania tersenyum. “Iya, nggak papa. Orang sakit sangat mudah marah.”

“Terima kasih. Saya nitip Bapak. Saya harus ke kantor lagi,” lanjut Bagas. Tangannya menyugar rambut. Kemeja biru polosnya terlihat sedikit lusuh.

“Tapi, sebaiknya anda istirahat dulu.”

Bagas tersenyum. “Nggak. Saya nggak papa, kok,” ujarnya kikuk. Ia kemudian pamit meninggalkan bangsal.

Sebuah deheman mengalihkan pandangan Kania dari punggung Bagas. “Ada yang sudah tukaran nomor telepon?” Manda mengerling genit. Manda tiba-tiba sudah berdiri di depan meja nurse station. Di tanganya ada baki dengan tabung vacutainer, jarum, kapas. Mungkin ia baru mengambil sempel darah pasien.

“Apaan, sih, Nda!” Matanya kembali fokus pada rekap yang harus ia selesaikan. “Ia tadi hanya nitip bapaknya, karena mau balik ke kantor. Wajarkan?”

“Tapi dari awal mereka masuk, perhatianmu beda, lho, Kania.”

“Beda apanya?” sangkal Kania tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

“Kamu, tuh, tadi seperti kesihir lihat mereka.”

Kania menoleh sesaat pada Manda. “O,iya. Aku kesihir sama batiknya Bu Projo.” Kania terkekeh.

Call nurse kembali berbunyi bersamaan dengan lampu yang menyala dari kamar nomor 27. Manda dan Kania saling berpandangan. “Aku mau ke lab ngantar ini.” Manda mengangkat tabung vacutainer. “Krisna masih di kamar 25.” Kania segera berdiri meninggalkan rekapannya, segera melangkah menuju kamar 27.

“Infus macet, Suster.” Istri Projo terlihat panik. Selang infus yang dekat dengan jarum terlihat merah. Darah mulai naik. Itu yang membuat istri Projo panik.

Kania memeriksa infus set yang terpasang di tangan kanan Projo. Kania melihat spike yang menghubungkan selang infus ke flabot bergeser ke bawah. Ia segera menekan spike agar masuk ke flabot cairan infus.

“Bapak jangan banyak gerak. Kalau banyak gerak nanti selang infus ketarik lagi,” ujar Kania.

“Ya, tanganku bisa kaku kalau ngak boleh gerak,” gerutu Projo.

Kania tidak menanggapi gerutuan Projo. Ia segera berlalu kembali ke nurse station. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, sikap ngeyelnya Projo tetap saja mengusik suasana hatinya. Apalagi saat melihat status kesehatan Projo.

“Hebat, istrinya,” gumam Kania.

“Istri siapa?” celetuk Manda yang mendengar gumaman Kania.

“Eh! Anu, istrinya Projo.” Kania terkejut, nggak menyangka Manda mendengar.

“Emang kenapa?”

“Pak Projo itu, ampun, deh, ngeyelnya.” Kania mengelengkan kepala.

“Mau tindakan, ya?” tanya Manda.

“Iya, ada infeksi di kakinya dan gula darahnya masih tinggi.”

“Semoga besok, nggak ngeyel lagi.” Manda tertawa.

Kepatuhan pasien mengikuti arahan dokter menjadi kunci suksesnya pengobatan. Namun, kadang pengobatan itu terhambat karena sikap pasien yang tidak kooperatif. Projo harus menunggu sehari semalam sampai kondisinya siap menjalani tindakan operasi kecil membersihkan luka infeksi di kakinya.

Baca Juga:  Novel: A Way to Find You (Part 20)

Kesabaaran Projo masih harus diuji, pasca menjalani operasi. Luka diabetes butuh waktu lama untuk sembuh. Sebenarnya ia masih beruntung keluarganya memberi dukungan untuk sembuh. Beberapa kali Kania melihat istri Projo mengingatkan suaminya untuk minum obat. Sesekali ia melihat istri Projo menyuapi suaminya. Tak hanya suaminya, ia bahkan menyuapi Bagas. Agak janggal bagi Kania, seorang pria dewasa yang sehat, masih disuapi ibunya. Namun, kemudian Kania menepis rasa janggalnya, toh, itu, bukan urusannya.

Projo harus menjalani home care, agar lukanya lekas sembuh. Kania diberi tugas tambahan oleh Andika untuk merawat Projo. Kania tidak keberatan karena rumah Projo sejalan dengan rumahnya.

Selesai operan jaga, Kania segera melajukan Rio menuju rumah Projo. Tak sulit menemukan rumah Projo. Rumah juragan batik itu terlihat menonjol dengan rumah di sekitarnya. Rumah itu memiliki pagar tembok setinggi pinggang orang dewasa pada bagian bawahnya, sedang bagian atas jeruji besi berbentuk tombak terlihat berjajar gagah mengelilingi bagian depan rumah Projo.

Pohon nangka dan sawo berdiri gagah di depan rumah limasan yang menjadi bagian terdepan dari rumah Projo. Papan nama bertuliskan Omah Suwignyo Batik menggantung di bawah atap teras di sebelah kanan pintu masuk teras. Di sebelah kiri pintu berjajar beberapa sangkar burung.

Kania memarkirkan Rio di sebelah kanan pintu gerbang. Beberapa motor telah terparkir di area itu. Kania yakin motor-motor itu milik karyawan Suwiknyo Batik.

Pintu limasan terbuka saat Kania melepaskan helmnya. Seorang perempuan dengan daster batik muncul dari dalam limasan. Wajahnya terlihat tetap segar meskipun hari menjelang sore. Ia membukakan pintu teras untuk Kania.

“Terima kasih Suster, sudah mau datang,” ujar perempuan anggun itu.

“Panggil, Kania, saja, Bu.” Kania tersenyum ramah. Tangan kanannya terulur menyambut tangan istri Projo.

“Saya Saras,” ujar perempuan itu tak kalah ramah. “Ayo! Bapak di belakang.” Saras melangkah menuju samping rumah limasan.

Kania mengikuti di belakang Saras. Mata nakalnya melirik ke dalam rumah limasan saat melewati jendela kayu yang terbuka. Rupanya rumah itu digunakan untuk galeri. Sekilas Kania melihat beberapa kain batik terpajang pada etalase. Rasanya, Kania ingin membelokkan kaki ke galeri itu. Namun, ia kemudian menyadari kedatangannya ke rumah ini bukan untuk berbelanja.

Aroma khas menggelitik hidung Kania. Aroma yang membawanya pada kenangan masa kecilnya. Aroma yang sangat ia kenal ketika Kania bersama neneknya. Aroma malam yang dilelehkan di wajan kecil yang diletakkan di atas bara api.

Di belakang rumah utama, ada ruang besar yang dijadikan untuk memproduksi batik. Berapa perempuan terlihat sedang fokus pada kain dan cantingnya. Ah, lagi-lagi pemandangan yang ia lihat kembali mengingatkannya pada neneknya. Nenek Kania dari pihak ayah dulu pekerja batik. Saat liburan di rumah nenek di Yogya, Kania kecil sering diajak nenek ke tempat kerjanya. Sejak kecil ia sudah akrab dengan aroma malam dan canting batik.

Projo tak menyadari kehadiran istri dan Kania. Di atas kursi roda, ia terlihat serius memperhatikan karyawannya, seolah ia takut karyawannya akan berbuat curang.

“Suster sudah datang, Pak.” Ucapan Saras mengalihkan mata Projo. Pria yang rambutnya hampir putih semua itu menegakkan badannya.

“Berapa lama lagi kaki saya akan sembuh, Sus?”

“Kita lihat dulu lukanya, Pak?” ujar Kania.

Terdengar Projo mendesah. “Si Bambang itu butuh bantuan. Kalau aku masih pakai kursi roda seperti ini, aku nggak biasa ngapa-ngapa.” Projo terlihat kesal.

“Besok Tarno, sudah masuk, Pak. Bapak nggak perlu khawatir.” Saras menenangkan suaminya.

“Kita ke dalam saja, Sus.” Saras mendorong kursi roda suami menuju ruang keluarga.

Kain kasa yang membalut luka Projo masih terlihat basah. Beruntung kain itu berwarna cokelat, sehingga warna merah yang merembes dari luka bisa tersamarkan. Pelan-pelan Kania membuka perban. “Rembesannya masih lumayan lebar, Pak,” ujar Kania. Tapi nggak papa, asal gula darahnya stabil bisa cepat kering.” Hati-hati namun cekatan, Kania membuka lembaran kasa yang membungkus bagian jempol kaki kanan Projo.

Kania menyemprotkan air pada bagian luka untuk memudahkan melepas kasa yang menempel pada luka. Reflek Projo menarik kakinya menjauh dari tangan Kania saat ia merasa sakit. “Sakit ya, Pak?” tanyanya. “Sedikit,” ujar Projo.

Ada undermining atau lubang di bagian tengah jempol kaki Projo. “Pak tahan, yah. Ini agak sakit.” Kania menatap Projo. Projo hanya mengangguk. Ia sudah hafal dengan perintah itu. Sejak di rawat di rumah sakit, perawat yang membersihkan lukanya selalu mengatakan, “Agak sakit, Pak.” Saat kasa yang ada di dalam lubang lukanya diambil, rasa nyeri itu datang, tapi hanya sesaat saja.

“Perkembangan lukanya sudah bagus, Pak. nanahnya sudah berkurang banyak,” terang Kania. Hati-hati gadis itu membersihkan luka agar Projo tidak merasa sakit. Tidak butuh waktu lama, Kania menyelesaikan pekerjaannya.”

“Masih butuh waktu lama untuk kering ya, Suster?” tanya Saras.

“Asal gula darahnya terkontrol, nanti cepat kering. Gula darahnya masih tinggi ya?”

“Sudah di bawa 200, Suster.”

“Wah, bagus itu Bu,” ujar Kania. Ia masih  merapikan kasa yang membalut jempol kaki Projo.  “Tinggal diatur pola makan dan kelola stresnya, ya, Pak,” lanjut Kania sambil menatap Projo.

“La, aku sakit ini malah bikin stress. Pekerjaan banyak, tapi aku cuma duduk saja,” keluh Projo.

Kania tersenyum mendengar keluhan Projo. “Kan, ada Mas Bagas, Pak, yang bisa dimintai tolong.” Kania memberi solusi.

“Ah! Anak itu bisanya apa!” ujar Projo makin kesal.

“Aku memang nggak bisa apa-apa, Pak!” Bagas tiba-tiba sudah ada di ruangan itu. Pintu masuk yang ada di belakang Kania membuat ia tidak tahu kedatangan Bagas.

Bagas segera membalikkan badan. “Bagas tunggu!” Saras bangkit dari duduknya menyusul Bagas.

Kania menjadi kikuk. Ia merasa bersalah karena ucapnnya membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman. “Maaf, Pak, saya –“

“Tidak perlu minta maaf. Suster tidak salah,” potong Projo.

Kania segera pamit setelah membereskan peralatan kesehatannya. Ia baru beberapa langkah meninggalkan rumah Projo menuju ke tempatnya Rio, tiba-tiba ponselnya berdering.

“Ibu,” bisiknya. Hatinya berdebar pasti ibu akan menagih janjinya.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Part 30)

Berita Terkait

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:41 WIB

Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:38 WIB

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terbaru