Pada awal Februari 2024, dunia maya dikejutkan dengan sebuah kesalahan yang terjadi pada layanan Google, khususnya terkait informasi nilai tukar dolar AS.
Banyak pengguna yang melaporkan bahwa pencarian di mesin pencari Google menunjukkan angka yang sangat tidak sesuai dengan nilai tukar dolar AS yang sebenarnya.
Berdasarkan data yang muncul di layar, 1 dolar AS hanya dihargai sekitar Rp 8.170, padahal nilai tukar yang sebenarnya tercatat jauh lebih tinggi, yakni sekitar Rp 16.312 per dolar AS.
Fenomena ini menimbulkan kebingungan, kekhawatiran, dan bahkan spekulasi di kalangan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Google Mengonfirmasi Kesalahan dalam Data Nilai Tukar Dolar AS

Setelah kegaduhan yang terjadi, Google akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait kesalahan yang muncul pada hasil pencarian nilai tukar mata uang.
Google mengonfirmasi bahwa kesalahan tersebut terjadi karena adanya gangguan teknis dalam sistem yang mengolah data konversi mata uang.
Salah satu perwakilan dari Google menjelaskan bahwa data nilai tukar yang muncul berasal dari penyedia data pihak ketiga. Ketika masalah ini terdeteksi, Google segera menghubungi penyedia data untuk memperbaiki kesalahan tersebut secepat mungkin.
Google juga menambahkan bahwa mereka berusaha untuk meningkatkan kualitas dan keakuratan data yang ditampilkan dalam mesin pencari mereka, termasuk informasi terkait nilai tukar mata uang.
Mereka menyampaikan bahwa meskipun Google menyediakan berbagai informasi keuangan, pihaknya tidak dapat menjamin sepenuhnya akurasi dari data konversi mata uang yang diambil dari penyedia pihak ketiga.
Hal ini menegaskan pentingnya menggunakan sumber informasi yang terpercaya ketika mencari data terkait mata uang dan pasar keuangan.
Reaksi Bank Indonesia (BI) dan Penjelasan Nilai Tukar Dolar AS
Pihak Bank Indonesia (BI) juga segera merespons fenomena ini dengan memberikan klarifikasi kepada masyarakat.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa kurs yang ditampilkan oleh Google tersebut jelas keliru dan tidak mencerminkan kondisi riil pasar.
Nilai tukar dolar AS yang benar, menurut BI, masih berada di kisaran Rp 16.312 per dolar AS pada 31 Januari 2024.
Penurunan tajam yang muncul di Google tidak sesuai dengan kurs resmi yang berlaku di Indonesia, yang tercatat di situs resmi Bank Indonesia.
Sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas stabilitas moneter Indonesia, BI menegaskan bahwa masyarakat harus memverifikasi nilai tukar dari sumber yang sah, seperti situs resmi Bank Indonesia (bi.go.id).
Selain itu, BI juga mencatat bahwa pada akhir Januari 2024, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah mengalami sedikit pelemahan, namun tetap berada dalam kisaran normal dan tidak mencatatkan penurunan signifikan seperti yang terlihat di Google.
Google Berjanji Memperbaiki Sistem dan Menghindari Kesalahan Serupa
Google, melalui pernyataan resminya, mengungkapkan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan penyedia data pihak ketiga untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.
Meskipun saat itu sistem masih dalam proses pemulihan, Google berkomitmen untuk segera mengembalikan data yang akurat dan sesuai dengan kondisi pasar yang sebenarnya.
Perusahaan ini juga menambahkan bahwa mereka sedang berupaya untuk memastikan kejadian serupa tidak terjadi di masa depan.
“Kami mengetahui adanya masalah yang memengaruhi informasi nilai tukar Rupiah (IDR) di Google Search, dan kami sedang menghubungi penyedia data untuk memperbaiki kesalahan ini secepat mungkin,” ujar perwakilan Google.
Google mengakui bahwa meskipun mereka berkolaborasi dengan banyak mitra penyedia data keuangan, mereka perlu lebih berhati-hati dalam menjaga kualitas dan akurasi informasi yang ditampilkan.
Sistem yang mengambil data secara otomatis dari sumber eksternal harus terus ditingkatkan agar bisa memberikan informasi yang lebih valid kepada pengguna.
Dampak Kesalahan Nilai Tukar Dolar AS terhadap Pengguna dan Bisnis
Kesalahan yang terjadi dengan nilai tukar dolar AS ini bukan hanya memicu kebingungan di kalangan masyarakat umum, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis bagi pelaku bisnis dan investor. ‘
Banyak pelaku usaha yang bergantung pada nilai tukar dolar AS untuk melakukan transaksi perdagangan internasional. Mereka yang melihat angka yang keliru ini merasa cemas dan mulai meragukan stabilitas ekonomi Indonesia.
Beberapa pengusaha langsung menghubungi bank dan lembaga keuangan lainnya untuk memastikan nilai tukar yang sebenarnya.
Selain itu, para investor yang memantau pasar saham juga merasa khawatir tentang dampak kesalahan tersebut terhadap pasar keuangan Indonesia.
Tidak sedikit yang bertanya-tanya apakah ada perubahan kebijakan moneter yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Namun, Bank Indonesia dengan cepat mengklarifikasi bahwa tidak ada kebijakan baru yang mempengaruhi nilai tukar rupiah secara drastis.
Halaman : 1 2 Selanjutnya