Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Dari data terakhir yang didapat pada 25 Maret 2025, rupiah melemah 0,51% ke posisi Rp16.635 per dolar AS, mencatatkan level terendah sejak krisis finansial Asia pada 1998.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, pelaku bisnis, serta masyarakat umum karena dampaknya terhadap harga barang impor, inflasi, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Bank Indonesia (BI) pun mengambil langkah-langkah strategis untuk menahan laju depresiasi rupiah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyebab Pelemahan Rupiah

Sejumlah faktor menjadi penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, baik dari faktor eksternal maupun internal.
1. Ketidakpastian Global dan Kebijakan The Fed
Salah satu faktor utama pelemahan rupiah adalah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Federal Reserve (The Fed) masih mempertahankan suku bunga tinggi, yang membuat dolar AS semakin kuat terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tingginya suku bunga AS mendorong investor global untuk menarik modal mereka dari negara berkembang dan mengalihkan ke aset berbasis dolar AS yang lebih menguntungkan.
Hal ini menyebabkan arus keluar modal (capital outflow) dari Indonesia, yang berdampak langsung pada nilai tukar rupiah.
2. Kekhawatiran Terhadap Kondisi Fiskal Domestik
Di dalam negeri, ketidakpastian mengenai situasi fiskal pemerintah turut memengaruhi pelemahan rupiah.
Kurangnya komunikasi yang jelas terkait rencana belanja pemerintah dan strategi pembiayaan defisit anggaran membuat pasar semakin khawatir.
Defisit fiskal yang melebar dapat meningkatkan risiko pembiayaan melalui utang luar negeri, yang pada gilirannya memperlemah kepercayaan investor terhadap rupiah.
3. Arus Keluar Modal dari Pasar Saham dan Obligasi
Sejak awal 2025, rupiah sudah melemah sekitar 3% terhadap dolar AS, didorong oleh keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia.
Investor cenderung mengurangi kepemilikan mereka di aset berisiko tinggi seperti saham dan obligasi negara berkembang, terutama saat kondisi global tidak menentu.
Selain itu, perayaan Idul Fitri yang semakin dekat juga mendorong peningkatan permintaan terhadap dolar AS, baik untuk kebutuhan impor barang maupun perjalanan ke luar negeri, sehingga semakin menekan nilai tukar rupiah.
Langkah Bank Indonesia untuk Menstabilkan Rupiah
Menghadapi pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) telah mengambil berbagai langkah intervensi di pasar keuangan untuk menstabilkan nilai tukar. Beberapa kebijakan utama yang dilakukan BI meliputi:
- Intervensi di Pasar Valuta Asing
BI melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan menjual cadangan devisa guna menahan pelemahan rupiah lebih lanjut. Langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan suplai dan permintaan dolar AS di pasar domestik.
- Operasi di Pasar Obligasi dan Non-Deliverable Forward (NDF)
Selain pasar valas, BI juga masuk ke pasar obligasi dan instrumen NDF guna menjaga stabilitas keuangan. Dengan membeli surat utang negara, BI berusaha menahan kenaikan imbal hasil (yield) dan mengurangi tekanan jual dari investor asing.
- Menjaga Stabilitas Suku Bunga
Suku bunga acuan BI saat ini masih bertahan di level 5,75%, yang tergolong tinggi untuk menekan inflasi dan mempertahankan daya tarik aset rupiah.
Namun, jika tekanan terhadap rupiah semakin besar, ada kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga guna menarik kembali modal asing.
- Memastikan Sentimen Pasar Tetap Kondusif
BI menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar domestik. Bank sentral terus memantau perkembangan ekonomi global serta memastikan bahwa kebijakan yang diambil tetap sejalan dengan kondisi makroekonomi Indonesia.
Dampak Pelemahan Rupiah bagi Ekonomi Indonesia
Depresiasi rupiah dapat berdampak luas terhadap perekonomian, baik dari sisi positif maupun negatif.
1. Dampak Negatif: Inflasi dan Beban Utang Luar Negeri
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor, termasuk bahan baku industri dan produk konsumsi. Hal ini dapat mendorong inflasi, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
Selain itu, pemerintah dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS akan menghadapi peningkatan beban pembayaran, yang berisiko terhadap stabilitas keuangan mereka.
2. Dampak Positif: Daya Saing Ekspor
Di sisi lain, rupiah yang melemah bisa memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar global.
Industri berbasis ekspor seperti perkebunan, pertambangan, dan manufaktur dapat merasakan manfaat dari pelemahan rupiah.
Proyeksi ke Depan: Akankah Rupiah Terus Melemah?
Beberapa analis memperkirakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi.
Halaman : 1 2 Selanjutnya