Sebelumnya: A Way to Find You (Part 11)
***
BAB 12
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Cuaca siang ini cukup terik setelah langit tidak berhenti menangis seharian kemarin. Sebuah mobil SUV putih keluaran Honda melaju memasuki perumahan Maharatu Residence dan berhenti di depan rumah bernomor 28A. Naura melepas sabuk pengaman dari tubuhnya, kemudian berbalik menghadap lelaki yang duduk di belakang setir. “Aku kerja dulu, Yang. Titip Arkan, ya. Jangan digodain terus,” pamitnya sambil mencium punggung tangan Dimas, suaminya.
“Lagian, kenapa tiba-tiba berangkat kerja, sih? Biasanya Sabtu gini kamu full di rumah,” gerutu Dimas.
“Ada urusan mendadak. Penting,” sahut Naura. Jujur saja, nada suara Giska di telepon tadi pagi membuat hatinya gelisah. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut. Oleh karena itu, tepat pukul sebelas siang ini, ia sudah sampai di rumah Giska dengan diantar sang suami.
“Entar balik jam berapa?” tanya Dimas.
“Belum tahu. Mungkin abis ashar. Nggak usah jemput, aku naik ojek aja pulangnya.”
Dimas pun mencium kening istrinya penuh sayang. Meski kecewa karena waktu kebersamaannya dengan sang istri terganggu di akhir pekan ini, ia berusaha memahami. Pekerjaan Naura memang tidak gampang. Istrinya itu kadang-kadang bahkan lebih sibuk dari artis asuhannya. “Oke. Kalau berubah pikiran kabarin aja, Yang.”
Naura mengangguk, kemudian turun dari mobil. Setibanya di pintu depan rumah Giska, ia menekan bel. “Oh, halo, Mas. Giska ada?” sapanya pada Bima yang membukakan pintu.
Belum sempat lelaki itu menjawab, terdengar seruan Giska dari arah atas tangga. “Masuk dulu, Ra! Tunggu gue di ruang kerja!”
Karena sudah dipersilakan oleh sang istri, Bima pun bergeser dari ambang pintu untuk membiarkan tamunya masuk. “Masuk aja,” ujarnya kalem.
Naura berjalan melewati Bima sambil menggumamkan terima kasih. Ia kemudian membelokkan langkah menuju ruangan yang sudah sangat familier baginya. Air conditoner di dalam ruangan tersebut telah dinyalakan dalam suhu yang pas. Naura langsung menjatuhkan diri di sofa biru yang terletak di sudut ruangan. Diangkatnya kedua kaki ke atas dengan nyaman, seolah berada di rumah sendiri.
Setelah hampir setengah jam berlalu, Giska akhirnya muncul. “Sori, nunggu. Abis mandi,” kata perempuan itu. Wangi lavender dari sabun mahal favoritnya menguar di udara.
“Wangi amat, Neng. Nggak kurang lama berendamnya?” sindir Naura karena telah dibuat menunggu cukup lama. Sia-sia saja dia datang buru-buru ke sini.
Giska meringis bersalah saat mendengar nada jutek dari sahabatnya. “Gue bener-bener baru bangun sebelum lo nyampe sini tadi. Sumpah, capek banget.”
“Eh, iya.” Naura yang tadinya sudah dalam posisi tiduran di sofa gara-gara terlalu lama menunggu, refleks menegakkan badan. Ekspresi cemberutnya dalam sekejap menghilang. “Cepetan, lo mau cerita apa? Gue siap dengerin, nih.”
Giska memastikan pintu ruangan tertutup rapat. Ruang kerja sekaligus studio rekamannya ini memang kedap suara, tapi ia tidak mau mengambil resiko. Giska tidak ingin Bima mencuri dengar percakapannya dengan Naura. Setelah mengunci pintu tersebut, barulah ia mengempaskan tubuh di sebelah sahabatnya.
“Gila, gue nangis hebat semalem, Ra,” keluh Giska memulai.
Naura beringsut mendekat dan mengamati wajah Giska dengan lebih detail. “Iya, masih keliatan bengkak dikit mata lo,” komentarnya dengan sebersit nada prihatin. “Biar gue tebak. Lagi ada masalah, ya, ama laki lo?”
Mulut Giska terbuka kaget. “Kok tahu?” pekiknya.
Naura tertawa mendengus. “Anggiska yang gue kenal nggak mungkin nangis cuma gara-gara masalah remeh. Mau haters komen aneh-aneh dari A sampai Z, lo nggak pernah peduli. Bahkan pas kontrak kerja sama kita bareng brand dulu itu dibatalin, lo cuma kesel aja, tuh. Nggak ada nangis-nangisnya.”
Giska mengerucutkan bibir, merasa sedikit tersentuh karena ternyata sahabatnya ini sangat mengenalnya. Ia mengakui, kelemahan terbesarnya memang ada pada sang suami. Apa pun yang menyangkut lelaki itu akan selalu menjadi fokus pikirannya. Perlahan, Giska mengangguk. “Gue emang lagi ada masalah sama Mas Bima dari bulan kemarin.”
“Hah? Bulan kemarin?” Sepasang mata Naura yang ternaungi oleh bulu-bulu lentik berlapiskan maskara hitam kini membelalak. “Dari sebelum tahun baru, dong? Gue kira baru semalem. Kok bisa gue nggak sadar kalau kalian lagi ada masalah selama ini?”
“Ya karena gue diem aja.” Giska tersenyum kecut. “Sori, baru cerita ke elo sekarang. Tadinya, gue berharap bisa selesaiin perkara ini tanpa orang lain tahu. Tapi, tadi malem bener-bener pecah, Ra. Gue nggak kuat harus nyimpen ini semua sendirian. Gue butuh saran.”
Giska akhirnya menceritakan secara lengkap isu rumah tangganya kepada sang sahabat. Mulai dari pendakian Bima ke Sumbing, perubahan sikap lelaki itu, pertengkaran mereka di rumah mertua, bahkan sampai urusan ranjang. Isi ceritanya kurang lebih sama dengan apa yang ia ceritakan kepada Edo beberapa hari lalu. Bedanya, kali ini Giska mengakui kesalahannya karena berkali-kali menolak ajakan sang suami untuk naik gunung.
“Gue sadar gue salah, tapi Mas Bima juga salah. Nggak sepantasnya dia memperlakukan gue kayak gitu. Iya, kan?” kata Giska usai menceritakan kejadian semalam. Matanya berkaca-kaca mengingat sakit yang ia rasakan saat Bima mendorong tubuhnya sampai terjatuh.
Naura diam menatap Giska selama beberapa detik. Tangannya mengusap punggung sang beauty influencer beberapa kali. Ia berusaha memilih kata-kata yang bijak untuk ia sampaikan pada sahabatnya yang tengah didera prahara rumah tangga itu. Setelah Giska terlihat agak tenang, barulah Naura mulai bicara, “Sekarang bukan perkara siapa yang salah dan lebih salah, Gis,” ujarnya lembut. “Kenapa nggak coba cari jalan tengahnya? Situasi kalian nggak akan reda kalau kayak gini terus. Mas Bima maunya A, lo maunya B. Ya gimana bisa akur?”
“Terus menurut lo, gue harus gimana?” Giska mengembuskan napas dengan lesu. Punggungnya merosot di sandaran sofa. Menggunakan satu tangan, ia menyeka kedua matanya yang agak basah.
“Gimana kalau lo ajak dia naik gunung?”
Kini, giliran Giska yang membelalak. Naura buru-buru melanjutkan sebelum sahabatnya itu memprotes idenya, “Sekali aja, Gis, buat mencapai kata damai ama laki lo. Siapa tahu, kan? Begitu kumpul lagi di tempat favorit kalian, hati jadi lebih adem, kepala lebih seger. Kalian bisa ngomongin semuanya baik-baik. Selain itu, lo bisa sekalian yakinin diri. Apa bener, dengan naik gunung, semua kekhawatiran lo bakal jadi kenyataan? Dan apa bener, naik gunung sekali aja bakal bikin lo mendadak jadi buruk rupa?”
Giska pun terdiam, menyadari kebenaran dalam kata-kata Naura.
“Lagipula, sekarang ada gue di sini.” Naura menepuk dadanya sendiri. “Kerjaan lo nggak akan keteteran, gue jamin. Kalaupun nantinya lo ketagihan main sama Mas Bima, gue sendiri yang bakal iket lo di sini.”
Seulas senyum akhirnya muncul di bibir Giska. Saran dari Naura benar-benar memberinya pencerahan bagai sinar mentari yang menembus gelapnya hutan. “Lo bener,” ungkapnya setelah merenung sejenak. “Bego banget gue. Nggak seharusnya gue ngorbanin hobi dan hubungan rumah tangga gue cuma buat pekerjaan.”
“Terima kasih, Ya Tuhan. Akhirnya orang ini sadar juga.” Naura menengadahkan tangan dengan dramatis, membuat Giska tertawa sambil memukul pelan lengan sang sahabat.
“Aduh!” Naura pura-pura meringis kesakitan dan mengusap lengannya yang kena pukul. “Tega bener.”
“Nggak usah lebay.” Giska pun menarik Naura ke pelukan. Ia sangat berterima kasih pada sahabatnya tersebut. “Thanks, Ra. Saran lo membantu banget. Gue nggak tahu harus balas budi kayak gimana.”
“Bilang dulu, ‘gue bego’ tiga kali.”
“Gue bego, gue bego, gue bego.” Dengan polosnya Giska menurut.
Naura terkekeh. “Terus, sekarang kasih gue bonus.”
“Yaelah, malah ngelunjak. Baru aja gue seneng dikit,” gerutu Giska, langsung melepas pelukannya. Si sahabat malah tertawa makin keras.
“Gue akan coba ngomong lagi sama Mas Bima entar malem,” putus Giska kemudian. “Gue akan ajak dia naik gunung. Mungkin, emang itu satu-satunya cara biar kami bisa baikan.”
***
Tepat pukul setengah tujuh, Bima dan Giska berjalan keluar dari rumah mereka. Keduanya mengenakan pakaian yang serasi. Giska dengan gaun burgundy dan clutch berkilau warna champagne, sementara Bima mengenakan kemeja warna krem yang dipadukan dengan vest dan celana panjang merah burgundy. Rambut Giska disanggul kepang dan dihiasi oleh headpiece bunga kecil di atas sanggulnya. Bima sendiri juga menguncir rapi rambut hitamnya dengan menyisakan beberapa helai untuk dibiarkan jatuh menghiasi kening.
‘Biasanya, Mas Bima puji aku tiap dandan kayak gini,’ batin Giska lesu saat melihat sang suami tidak menunjukkan reaksi apa pun pada penampilannya. Lelaki itu hanya mengamatinya sekilas sebelum mereka keluar dari rumah. Dengan sedikit kecewa, Giska pun masuk ke mobil.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit bagi mereka untuk sampai di gedung acara. Sepanjang perjalanan, pasangan suami-istri itu hanya diam, sama sekali tidak membuka percakapan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Masih tersimpan rasa sakit atas apa yang terjadi tadi malam, tapi ada juga rasa sesal yang menyelinap di sudut hati mereka. Di dalam benaknya, baik Bima maupun Giska sebenarnya ingin saling bicara. Namun, karena tidak mau merusak suasana, mereka akhirnya memilih untuk diam.
Corolla Cross warna silver milik pasutri itu akhirnya memasuki area gedung pernikahan. Mobil-mobil mewah telah mengantre dengan rapi di depan lobi utama, menurunkan para penumpangnya yang juga memakai pakaian tak kalah mewah. Beberapa petugas valet sibuk menyambut setiap mobil yang datang. Hingga tibalah giliran Bima dan Giska. Setelah menyerahkan mobil mereka ke salah satu petugas, keduanya berjalan bersisian memasuki gedung. Secara refleks, Bima mengulurkan lengan kirinya dan Giska menyambut uluran tersebut.
“Jangan lupa senyum,” bisik Giska begitu melihat segerombol wartawan di dekat pintu utama. Kamera para pemburu berita itu menyorot ke sana kemari, mengabadikan wajah-wajah tamu yang hadir malam ini. Giska menampilkan senyum terbaiknya dan merapatkan diri ke tubuh sang suami. Tidak ada yang boleh tahu bahwa kondisi rumah tangganya sedang diguncang masalah.
Keduanya berhasil memasuki area hall tanpa kendala. Sejuk dan wanginya udara menyambut kedatangan mereka di ruangan yang amat luas itu. Bunga-bunga putih mendominasi dekorasi mulai dari pintu masuk hingga panggung pelaminan. Suara saxophone terdengar lembut membelai telinga setiap orang yang hadir. Para tamu undangan tersebar di beberapa penjuru, mengobrol dengan teman atau kenalan mereka.
“Itu temen aku. Ke sana, yuk!” Giska mengarahkan langkah mereka menuju seorang perempuan yang mengenakan jilbab dan abaya cokelat emas. “Yasmin!” panggilnya.
Yasmin menoleh. “Eh, Gis!” sambutnya riang. Kedua perempuan itu pun bercipika-cipiki dan mengobrol ringan.
Tak lama kemudian, acara resepsi resmi dimulai dengan hadirnya kedua mempelai. Sebelum naik ke pelaminan, pengantin pria dan wanita menempatkan diri di ruang depan panggung yang sengaja dibiarkan kosong. Rupanya, mereka akan menampilkan sebuah tarian waltz. Dengan diiringi oleh lagu So Close milik Jon McLaughlin, dua orang yang baru saja mengikat janji suci itu berdansa dengan begitu luwes dan anggun. Giska dan tamu undangan yang lain bertepuk tangan penuh semangat, benar-benar terpesona pada sang raja dan ratu pemilik acara malam itu.
“Sebentar lagi, lagu kedua akan kami mulai,” kata sang pembawa acara. “Tapi sebelum itu, saya mau mengundang siapa pun yang datang bersama pasangan untuk ikut berdansa bersama Kak Yoga dan Kak Agnes di sini.”
“Gis, sana maju!” bisik Yasmin pada Giska.
“Eh, tapi, gue nggak bisa dansa,” sahut Giska panik. “Mas Bima juga.”
Seolah menjawab keraguan para tamu, si pembawa acara kondang berbicara lagi, “Ayo, jangan malu-malu! Nggak harus bisa nari. Yang penting, peluk aja pasangan kalian, terus ikuti irama lagunya.”
Beberapa pasangan mulai melangkah maju bergandengan tangan, mulai dari pasangan muda sampai kakek-nenek. Sang MC makin bersemangat mengajak yang lain, sementara para panitia mulai mengatur tempat berdiri pasangan-pasangan tersebut agar tidak saling bersenggolan.
Mendadak, satu tangan terulur di depan Giska. Perempuan itu refleks mendongak kaget.
“Ayo, dansa sama aku,” ajak Bima sembari menatap istrinya dengan lembut.
***
Selanjutnya: A Way to Find You (Part 13)