Novel: A Way to Find You (Part 13)

- Penulis

Kamis, 31 Oktober 2024 - 18:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebelumnya: A Way to Find You (Part 12)

***

BAB 13

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Giska menatap bimbang pada telapak tangan Bima yang terbuka di hadapannya.

“Noh, laki lo mau!” Yasmin makin heboh dan sedikit mendorong tubuh Giska. “Udah, sana buruan! Sayang, ih, udah dandan cakep-cakep gini nggak show off,” desak perempuan keturunan Arab itu penuh semangat.

Dengan sedikit terpaksa, Giska akhirnya menyambut uluran tangan sang suami. Yasmin langsung mengacungkan dua jempol dan terkekeh senang.

“Geraknya pelan aja, Mas. Aku takut keserimpet gaun,” bisik Giska saat mereka melangkah maju. 

Bima mengangguk dan mempererat genggamannya di tangan sang istri. “Tenang aja. Kamu tahu aku juga nggak pinter nari.”

Giska tersenyum kecil mengingat betapa kakunya tubuh mereka setiap kali harus menari. Pasutri itu lebih memilih melakukan angkat beban atau squat jump puluhan kali daripada harus menggoyangkan tubuh mengikuti irama musik.

Seorang panitia memosisikan Bima dan Giska di bagian agak tengah, dekat dengan pengantin pria dan wanita. Agnes, si mempelai wanita yang merupakan teman Giska, sempat melambaikan tangan ke arah temannya itu. Giska pun balas melambai.

“Cantik banget lo,” puji Agnes dengan bisikan keras dan gerakan bibir yang heboh.

“Lo juga cakep parah!” balas Giska pada aktris sinetron yang namanya tengah naik daun itu. Keduanya sama-sama menyeringai lebar.

Lampu ruangan mulai meredup dan berubah warna. Asap buatan warna putih yang berasal dari fog machine menjalar menutupi lantai, menambah kesan dramatis. Sang pembawa acara memberi aba-aba agar para lelaki memeluk pinggang pasangannya. Giska agak menahan napas ketika lengan Bima melingkari pinggangnya yang ramping dan menariknya mendekat. Saat ia mendongak, sang suami ternyata juga tengah menunduk menatapnya. Kedua pasang mata itu saling mengunci. Kilasan-kilasan soal kejadian semalam secara otomatis berkelebat di benak masing-masing.

Giska membuang muka terlebih dahulu. Jantungnya mulai berdebar tidak teratur. Bukan karena rasa senang, tapi justru karena takut. Berdiri sedekat ini dengan Bima usai apa yang terjadi tadi malam membuatnya tidak tenang. Bagaimana kalau tiba-tiba lelaki itu bertindak aneh dan mendorongnya lagi? Bagaimana kalau ia dipermalukan di hadapan begitu banyak orang seperti ini? Giska mulai menyesal menerima ajakan dansa sang suami.

‘Harusnya, aku tolak aja tadi, daripada–’

“Gis, aku minta maaf.”

Giska spontan menoleh kaget. Bisikan itu terdengar begitu tulus, begitu juga dengan ekspresi di wajah lelaki yang berada tepat di depannya. Bima menatapnya penuh penyesalan. “Soal semalem … aku berani sumpah, aku nggak berniat dorong kamu,” lanjut Bima.

Giska mengerutkan kening. “Terus, kenapa kamu lakuin itu?” tukasnya tajam.

“A-aku cuma kaget aja,” jawab Bima dengan tergagap dan wajah yang agak memerah. Ia tidak sanggup menjelaskan lebih lanjut. Tidak mungkin ia mengatakan dengan jujur bahwa ia melihat wajah perempuan lain saat tengah mencium istrinya. “Maafin aku,” ucapnya lagi.

Giska mengembuskan napas. Setidaknya, kali ini Bima menyadari kesalahannya dan bersedia meminta maaf, tidak seperti pertengkaran mereka sebelumnya. Melihat wajah memelas lelaki itu juga membuat hatinya seketika luluh. Belum sempat Giska menanggapi, alunan musik mulai terdengar. Obrolan mereka pun terputus oleh aba-aba final dari pembawa acara.

“Pegang bahuku,” bisik Bima, dekat di telinga istrinya. Giska langsung menurut. Ia mendaratkan kedua tangannya di bahu Bima yang kokoh.

Musik mengalun lembut, menyajikan nada-nada yang ringan dan menyenangkan. Ketukannya juga cenderung monoton sehingga mudah diikuti oleh siapa saja. Pasangan-pasangan yang berada di lantai dansa kini mulai hanyut dalam irama, begitu juga Bima dan Giska. Keduanya bergerak mengikuti insting mereka tanpa melepas tatapan satu sama lain.

“Cantik,” gumam Bima tiba-tiba.

“Apa?”

“Kamu cantik banget malem ini,” kata Bima lagi.

Napas Giska seolah tersedot pergi. Rasa panas menjalar dari leher, pipi, hingga ke telinganya. Pujian yang ia harapkan sejak mereka berangkat dari rumah tadi akhirnya bisa ia dengar. Perempuan itu langsung salah tingkah hingga tidak mampu menjawab.

Bima tersenyum tipis melihat rona merah di wajah sang istri. Ia mendadak mundur setengah langkah, lalu mengangkat satu tangan Giska. “Muter,” perintahnya lembut.

Giska pun memutar tubuhnya, masih sambil berpegangan pada satu tangan sang suami. Senyum lebar tanpa sadar merekah di bibirnya. Saat selesai melakukan putaran yang kedua, tubuhnya sedikit oleng akibat heels tinggi yang ia pakai. Beruntung, Bima dengan sigap menangkap pinggangnya dan kembali menariknya mendekat.

Giska menyandarkan kepala serta badannya ke sang suami. Percikan hangat timbul dalam dadanya. Apakah wajar kalau ia merasa senang saat ini? Apakah itu artinya ia sudah bisa mengikhlaskan kejadian semalam? Giska sadar ia memiliki pintu maaf yang tak terbatas bagi lelaki pemilik hatinya ini. Ia tahu betul, meski egonya masih berkata tidak, tapi hatinya sudah memaafkan kesalahan lelaki itu. Sakitnya luka akibat pertengkaran tidak akan sebanding dengan sakit yang ia rasakan jika harus berpisah dengan sang suami. Sebesar itulah Giska mencintai Bima.

Bima membawa Giska bergerak santai ke kanan dan ke kiri. Giska memejamkan mata untuk menikmati dekapan sang suami untuk terakhir kali, sebelum akhirnya ia mengangkat kepala. “Mas,” panggilnya.

Bima menunduk menatapnya. “Hm?”

“Ayo kita naik gunung.”

Detik itu juga, kaki Bima berhenti bergerak. Giska juga otomatis berhenti. Ia bisa melihat kekagetan menguasai wajah tampan suaminya. “Apa kamu bilang?” desis Bima tak percaya. Kedua alisnya yang tebal sampai menyatu di tengah keningnya.

“Aku pingin naik gunung sama kamu,” ulang Giska dengan lebih jelas.

Keduanya bergeming sampai akhirnya musik berhenti. Tepuk tangan penonton berhasil menyadarkan Bima. Ia segera meraih tangan sang istri dan menggandengnya keluar dari kerumunan. Keduanya melangkah ke sudut ruangan yang agak sepi agar lebih leluasa berbicara.

Baca Juga:  Novel : Room for Two Bab 33: Bencana yang Datang Tanpa Rencana

“Jelasin maksud kamu,” tegas Bima yang seolah masih belum percaya pada kalimat istrinya tadi.

Giska menarik napas panjang. Ia tahu ajakannya ini cukup mendadak, jadi wajar kalau Bima kaget. Apalagi, mereka baru saja bertengkar mengenai hal itu tadi malam. “Aku minta maaf karena sering nolak ajakan kamu dulu,” ujarnya memulai. “Sebenarnya, sampai saat ini, aku masih kekeh sama pendirian aku. Tapi, aku mau coba buka hati aku lagi. Aku mau coba naik gunung bareng kamu, sekali ini aja.”

Bima membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia sama sekali tidak menyangka, setelah apa yang mereka perdebatkan semalam, akhirnya Giska malah memilih untuk mengajaknya naik gunung. Apa yang membuat perempuan itu berubah pikiran?

Akan tetapi, Bima merasa sedikit lega. Kebetulan sekali, sejak pagi tadi, ia sibuk memikirkan alasan apa yang bisa ia gunakan agar bisa kembali ke Sumbing. Sekarang, alasan itu datang sendiri dalam wujud ajakan sang istri.

“Kamu keberatan?” tanya Giska yang melihat suaminya diam saja.

Bima buru-buru menggeleng. “Aku mau,” jawabnya cepat. “Tapi, aku harus atur cuti dulu di kantor.”

“Nggak pa-pa. Nggak usah buru-buru. Aku juga butuh banyak persiapan.” Giska menangkap ada kilau antusias yang sudah lama tidak ia lihat di kedua mata Bima. Perempuan itu tersenyum kecil. Sepertinya, ia telah mengambil langkah yang tepat. “Ngomong-ngomong, enaknya kita ke gunung mana?”

“Sumbing,” jawab Bima tanpa berpikir dua kali. Hanya itu satu-satunya destinasi yang ada dalam kepalanya sejak dulu.

Giska mengangkat kedua alis. “Sumbing lagi? Kamu, kan, habis ke sana kemarin?”

“Tapi, kamu belum pernah, kan?”

Giska menimbang-nimbang sejenak. Sejujurnya, ia memang penasaran ingin ke Sumbing. Apa benar, gunung tersebut seindah yang diceritakan suaminya? Selain itu, karena semua permasalahan ini berawal dari pendakian Bima di sana, Giska merasa mereka harus mengakhiri ini semua di sana juga.

“Oke, kita ke Sumbing,” putus Giska akhirnya. “Kita atur jadwal, terus pesen tiket.”

***

Selang beberapa hari setelah kesepakatan itu terjadi, Giska mulai mempersiapkan kembali peralatan naik gunungnya yang sudah lama tersimpan. Ia dan Bima memang belum mendapat jadwal pasti untuk keberangkatan mereka. Namun, tidak ada salahnya bersiap-siap dari sekarang. Di waktu senggang setelah rekaman, Giska menyempatkan diri memilah alat-alat mendakinya. Beberapa masih bagus, tapi beberapa sudah mulai usang dan ketinggalan zaman. Ia pun memutuskan untuk membeli baru demi kenyamanan pribadi.

“Sori, gue harus ajak bocil ini. Mbak Ambar lagi izin sakit, jadi nggak ada yang jagain,” kata Naura siang ini saat Giska membuka pintu mobilnya. Kemarin, Naura memang sudah berjanji akan mengantar sang beauty influencer itu berbelanja di mal. Namun, ada sedikit perubahan rencana gara-gara pengasuh anaknya mendadak tidak bisa datang.

“Ih, Arkaan!!” Giska justru berseru penuh semangat. Ia melongokkan kepala ke belakang. Di sana, Arkan tengah duduk manis di car seat-nya sambil menggenggam mainan. Bocah berusia dua tahun itu langsung melambai-lambaikan mainan di tangannya saat mendengar namanya dipanggil. Giska tertawa gemas. “Gue duduk di belakang aja, ya, ama Arkan?”

“Dih, terus gue jadi sopir ojek, gitu, ceritanya?” sahut Naura tak terima.

“Iyaa, udah. Deket juga. Jarang-jarang, kan, gue ketemu anak lo?” Tanpa mengindahkan protes sahabatnya, Giska menutup kembali pintu penumpang depan, kemudian berjalan memutar menuju jok tengah mobil Naura. Ia memosisikan diri di sebelah anak lelaki sahabatnya tersebut. “Jalan, Bu Sopir!” perintahnya dengan cengiran lebar.

Sembari menggerutu pelan, Naura pun memindah persneling dan mulai menginjak gas. Mobil melaju meninggalkan perumahan tempat Giska tinggal.

“Jadi, gimana hubungan lo ama Mas Bima sekarang?” tanya Naura pada Giska yang sedang sibuk menanggapi celoteh anaknya.

Giska terdiam beberapa detik. “Kami baik-baik aja,” jawabnya kemudian.

“Kok nggak yakin gitu?” Naura melirik Giska lewat spion tengah.  Satu alisnya terangkat penuh selidik.

Giska menghindari tatapan Naura dengan pura-pura memainkan boneka dinosaurus milik Arkan di hadapan bocah itu. “Kami udah nggak berantem lagi, kok. Udah nggak pernah pisah kamar juga.”

“Tapi?”

“Tapi … ya, gitu. Mas Bima masih banyak diemnya, belum bisa kayak dulu.” Giska mengembuskan napas panjang. “Mungkin, dia masih ada hard feeling sama gue. Gue juga jadi segan mau ngomong ini itu duluan. Yah, paling nggak, dia udah nggak terlalu cuekin gue sekarang, apalagi bersikap kasar.”

“Gue yakin semua bakalan baik-baik aja, Gis,” kata Naura menenangkan. “Kalian cuma butuh waktu aja.”

Giska tersenyum tipis. “Gue harap, sih, gitu,” angguknya. “Semoga, pendakian gue sama Mas Bima kali ini bener-bener bisa selesaiin semuanya.”

Kedua perempuan itu pun sama-sama mengaminkan permohonan Giska. Naura mengalihkan obrolan ke topik yang lebih ringan. Hingga tak terasa, dua puluh menit kemudian, mereka tiba di mal tujuan.

“Mau langsung cari barang atau makan siang dulu?” tanya Naura sembari mendorong stroller Arkan.

“Makan dulu, deh. Laper,” jawab Giska.

Keduanya memutuskan untuk makan di sebuah restoran Jepang terkenal yang terletak di lantai tiga mal tersebut. Suasana mal tidak terlalu ramai karena saat ini masih jam kerja. Tepat setelah mereka selesai memesan, notifikasi pesan muncul di layar ponsel Giska. Ia buru-buru membukanya begitu melihat nama sang suami tertera di sana.

“Oh, Mas Bima udah dapet cutinya,” kata Giska antusias. “Katanya akhir bulan besok. Berarti, minggu depan, dong?”

Naura mengangguk, ikut merasa antusias. “Kalau gitu, kita juga harus segera atur jadwal!”

***

Selanjutnya: A Way to Find You (Part 14)

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Part 30)

Berita Terkait

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:41 WIB

Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:38 WIB

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terbaru