Novel: A Way to Find You (Part 27)

- Penulis

Senin, 2 Desember 2024 - 09:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Sebelumnya: A Way to Find You (Part 26)

***

Novel: A Way to Find You (Part 27)

BAB 27

Napas Giska seolah tersedot pergi. Membayangkan ia harus melanjutkan hidup di dunia ini tanpa Bima membuat tubuhnya lunglai. Kekosongan pahit mendera hati dan pikirannya. Akan jadi seperti apa kesehariannya tanpa lelaki itu nanti?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jeng, tolongin suami saya,” pinta Giska. Air matanya mengalir tanpa henti. Ia beringsut maju dan menggenggam tangan Asih. “Saya mohon, tolongin Mas Bima. Saya akan bayar Jeng Asih berapa pun, asal suami saya selamat.”

Asih menarik napas panjang-panjang. “Kayaknya, sulit kalau cuma saya yang bertindak. Lawan kita nggak main-main. Saya perlu hubungin guru saya di padepokan dan minta bantuan.” Asih mengeluarkan secarik kertas dan pena dari dalam tasnya. “Tulis nama lengkap Mas Bima dan nama lengkap ayahnya di sini. Dengan izin Tuhan, saya akan coba bantu Mbak Giska dan Mas Bima.”

Dengan tangan gemetar, Giska menuliskan apa yang Asih minta. Pikirannya kacau balau mengetahui nyawa sang suami tengah terancam.

“Untuk sekarang, Mbak Giska jangan putus berdoa. Minta petunjuk dan pertolongan sama Tuhan. Panggil nama Mas Bima dalam doa-doa Mbak Giska,” kata Asih sambil melipat kertas yang bertuliskan nama Bima tadi dan memasukkannya ke dalam tas. “Besok, boleh saya jenguk Mas Bima di rumah sakit?”

Giska langsung mengangguk. “Silakan, Jeng.”

Asih berdiri dari duduknya. “Saya akan coba berkonsultasi sama guru saya malam ini. Gimana kelanjutannya nanti akan saya beri tahu Mbak Giska. Oh, nomor yang hubungi saya tadi punya Bi Tami, ya?”

“Iya.” Giska mengangguk. “Bi, nanti kirim nomor saya ke Jeng Asih, ya,” pintanya pada Tami.

“Baik, Mbak.”

“Kalau begitu, saya permisi dulu,” pamit Asih.

Giska dan Tami mengantar tamu mereka sampai ke depan. Asih berulang kali menolak saat Giska menawarinya bayaran. Ia bilang, ia akan fokus menyelesaikan masalah ini dulu. Perkara uang bisa dipikir belakangan.

“Bi, saya mau balik ke rumah sakit. Yuk, Bi Tami sekalian saya anterin.”

Setibanya di rumah sakit, Giska meminta Kinar dan Wahyu untuk pulang dan tidur di rumah saja. Ia tidak ingin kedua mertuanya yang sudah berumur itu tidur berdesakan dengan tidak nyaman di sini.

“Besok, Mamah ke sini lagi. Sekalian, Bunda Hesti mau datang, kan?” tanya Kinar saat berpamitan.

Giska mengangguk. “Mungkin, siang agak sore Bunda sama Ayah nyampe sini, Mah.”

Kinar mengangguk. Tangannya mengusap kepala Giska satu kali. “Mamah sama Papah pulang dulu, ya. Kalau ada apa-apa, telepon aja.”

Setelah Kinar dan Wahyu pergi, Giska berdiri di samping tempat tidur Bima. Kondisi suaminya itu masih sama. Diam tak bergerak dalam tidurnya yang tak berujung. Kedua matanya rapat terpejam. Giska merasa sesuatu dalam dadanya teriris perih. Karena ranjang rumah sakit itu cukup besar, ia pun memanjat naik dan merebahkan diri di samping sang suami.

“Mas,” panggil Giska. Suaranya pecah menahan tangis. “Aku tahu kamu bisa denger aku. Aku mohon, bangun, Mas. Aku nungguin kamu di sini. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”

Air matanya mulai berjatuhan seolah tidak pernah habis. Giska memeluk tubuh sang suami dan menangis di dadanya. “Aku janji, aku nggak akan pernah ninggalin kamu lagi. Aku nggak akan biarin kamu kesepian lagi. Jadi, tolong, pulang. Jangan pergi jauh-jauh, ya?”

Isak tangis Giska membelah keheningan kamar tersebut. Untuk sesaat, perempuan itu membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Ia tumpahkan semua kekhawatiran dan ketakutannya di dada sang suami. Mulutnya merapalkan permohonan berulang kali agar suaminya itu cepat kembali. Karena kelelahan, tanpa sadar Giska jatuh tertidur.

Sementara itu, di suatu dimensi yang lain, Bima terkurung di dalam sebuah kamar yang mulai terasa familier baginya. Ia berulang kali mencoba untuk kabur, tapi beberapa lelaki bertubuh raksasa selalu berhasil menangkapnya. Kini, ia nyaris putus asa. Bima berdiri di depan jendela besar berteralis besi yang menghadap langsung ke pemandangan di luar. Andai ia bisa berlari ke sana, ke hutan di bawah itu, ia akan mencoba menemukan jalan untuk kembali ke rumah.

“Giska,” panggilnya lirih. Di dalam kepalanya, ia mendengar perempuan terkasih itu memanggil namanya berulang kali. Namun, Bima tidak mampu menjawab. Semua teriakan permohonannya hanya bergema di jurang tak berdasar yang memisahkannya dari alam nyata.

Mas, pulang, Mas.

Lagi-lagi, ia mendengar suara sang istri yang sarat akan keputusasaan. Belum sempat Bima bereaksi, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dari sana, masuk lah seorang wanita berpakaian adat Jawa yang tampak mewah dan berkilau. Rambut hitamnya disanggul dan bertahtakan mahkota emas. Berbagai macam perhiasan memenuhi tubuhnya. Ia berjalan dengan anggun ke arah Bima. Senyumnya tegas memesona.

“Maaf, aku belum memperkenalkan diri dari awal,” ucapnya dengan lembut begitu ia berdiri di hadapan Bima. “Namaku Putri Sriwati, dan aku adalah penguasa di Gunung Sumbing ini.”

***

Hesti memeluk putri kesayangannya yang tengah terisak sedih. Sore ini, ia dan suaminya, Rizal, tiba di Tangerang. Mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat Bima dirawat. Betapa kagetnya ia melihat kondisi menantunya yang terbujur tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Pantas, putrinya ini tidak berhenti menangis sejak kemarin.

“Udah, Sayang. Jangan nangis terus, nanti capek,” kata Hesti, persis seperti saat Giska masih kecil. Ia mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih. “Bunda yakin, Mas Bima bisa sembuh. Dia pasti bangun nggak lama lagi.”

Sang ayah ikut mengusap kepala Giska. Hati lelaki tua itu hancur melihat putrinya sesedih ini. “Dia lelaki kuat, Gis. Jangan terlalu khawatir. Suamimu pasti sembuh.”

Baca Juga:  Novel : Bertahan di Atas Luka Part 12

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Kinar dan sang suami masuk ke dalam sambil menenteng sekotak roti. Para besan itu pun saling menyapa dan memeluk. Giska bangkit berdiri untuk mencuci wajahnya di wastafel. Ia sadar penampilannya saat ini pasti tampak kacau. Semua pekerjaan dan media sosialnya juga ia telantarkan dari kemarin. Sungguh, kehidupannya terasa jungkir balik semenjak suaminya masuk ke rumah sakit. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, bahkan hanya sekadar tersenyum pun bibirnya terasa berat sekali.

Orang tua dan mertuanya tengah mengobrol dengan suara pelan di sofa. Giska memeriksa ponsel. Tidak lama lagi, Jeng Asih akan tiba di sini. Mau tidak mau, ia harus menceritakan soal situasi yang sebenarnya pada para orang tua itu. Tak urung, perutnya mulai melilit karena tegang.

Benar saja, lima menit kemudian, terdengar ketukan pintu kamar. Giska langsung bangkit dan membukakan pintu tersebut untuk tamunya. Asih berjalan masuk, sementara orang tua Giska dan Bima berdiri dengan sikap menyambut.

Giska menuntun Asih ke depan para orang tuanya. “Ayah, Bunda, Mamah, Papah,” ucapnya pelan sambil memandang mereka bergantian. “Kenalin, ini Jeng Asih. Jeng Asih ini orang pintar yang akan menolong Giska sama Mas Bima.”

Giska bisa melihat wajah-wajah di hadapannya berubah kaget. Dengan bantuan Asih, ia pun menceritakan seluruh kejadian yang sesungguhnya, mulai dari awal sampai hari di mana Bima jatuh sakit.

“Kok, kamu nggak pernah cerita ke Mamah, Neng?” tegur Kinar dengan nada agak tinggi. “Kemarin padahal sempet nginep di rumah Mamah, lho.”

“Iya, kamu juga diem aja ke Bunda,” imbuh Hesti. “Kalau bilang dari dulu, kan, kami bisa bantu. Bunda juga punya banyak kenalan orang pintar.”

“Maafin aku,” ucap Giska lirih dengan kepala tertunduk. “Aku takut kalian nggak percaya. Aku sendiri awalnya juga nggak percaya.”

“Tapi, kan–”

“Sudah, sudah.” Rizal menengahi, tidak tega melihat putrinya menangis lagi. Ia memeluk Giska untuk menenangkannya. “Gis, lain kali, kalau ada masalah, jangan dipendem sendiri. Apalagi masalah seberat ini. Ayah, Bunda, Mamah Kinar, sama Papah Wahyu pasti bersedia bantuin, kok. Kalian ini anak-anak kesayangan kami. Percaya nggak percaya, kalau udah menyangkut soal ketentraman kalian, kami pasti nggak akan tinggal diam. Kamu tinggal cerita aja ke kami. Oke, Sayang?”

Giska mengangguk. “Maafin aku, Yah,” ucapnya lagi. Rizal pun dengan halus mengusap air mata di pipi putrinya.

“Lalu, sekarang gimana, Jeng Asih?” tanya Wahyu yang dari tadi diam saja. “Apa yang bisa kita lakukan buat nyelametin anak saya?”

Semua perhatian beralih ke Asih. Perempuan itu berjalan dan berhenti di sebelah tempat tidur. Giska segera menyusul dan berdiri di sisi yang berseberangan. “Saya coba bangunin Mas Bima dulu, ya. Saya lihat, ada banyak sekali yang jagain dia di sana. Dia jadi kesulitan mau balik ke sini.”

Asih mengangkat tangan kanannya dan ia letakkan di atas kepala Bima. Dengan mulut yang bergerak tanpa suara, Asih menarik tangannya turun, mulai dari atas kepala Bima, turun ke wajah, ke leher, lalu ke dada lelaki itu. Tepat saat tangan Asih berhenti di atas dada, Bima tersentak bangun.

“Mas Bima!” Giska menangkap tubuh sang suami yang seolah tertarik hingga duduk. Lelaki itu menarik napas panjang berulang kali untuk memenuhi paru-parunya.

Para orang tua langsung ikut mengerumuni tempat tidur. Mereka memanggil-manggil nama Bima dengan rasa khawatir sekaligus lega. Tubuh Bima memang masih lemah, tapi setidaknya, ia sudah tampak lebih fokus sekarang. Napasnya yang semula terengah juga mulai stabil.

“Gis,” panggil Bima dengan suara selirih embusan angin.

“Ya, Mas. Aku di sini,” sahut Giska dengan bercucuran air mata. Para orang tua ikut mengusap mata mereka yang basah.

“Gis … aku laper,” kata Bima lagi.

Semua orang langsung bergerak mengambil makanan yang tersedia. Mereka merasa lega luar biasa. Kalau Bima sudah sadar dan mau makan, itu artinya tidak harus dipasang selang di tubuhnya. Bima melahap semua makanan yang tersaji di depannya. Mulai dari nasi bento yang Giska beli untuk makan siang tadi, kemudian roti, kue, dan buah. Tidak heran, mengingat perutnya belum kemasukan apa pun selama hampir dua hari ini.

“Pelan-pelan, Mas,” kata Giska sambil mengusap ujung mulut Bima yang terkena krim kue. Setelah itu, ia menyisir rambut sang suami yang tampak kusut. Untuk pertama kalinya, perempuan itu bisa tersenyum lagi.

Akan tetapi, kelegaan yang dirasakan oleh keluarga itu tidak berlangsung lama. Baru saja Bima menyudahi aktivitasnya makan dan minum, mendadak ia kembali kehilangan kesadaran. Tubuhnya ambruk ke kasur. Semua orang langsung berseru panik, kecuali Asih. Perempuan itu hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala, seolah sudah menduga hal ini akan terjadi.

“Jeng Asih, gimana ini?” tanya Giska panik.

“Saya nggak punya cukup energi untuk menahan Mas Bima di sini, Mbak. Tarikan Putri Sriwati terlalu kuat.”

“Jadi, Mas Bima belum bisa pulang?” tanya Giska pilu.

Asih mengangguk. “Semalam, saya berkonsultasi sama guru saya yang ada di padepokan Kabupaten Kudus. Beliau bersedia membantu. Tapi, kami nggak bisa menarik sukma Mas Bima begitu saja. Terlalu beresiko. Bisa-bisa, Putri Sriwati dan para pengawalnya ikut ke sini, lalu mengganggu kalian lagi. Menurut guru saya, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan suami Mbak Giska.”

“Apa caranya, Jeng?”

“Mbak Giska harus datang langsung ke Sumbing. Temukan Mas Bima di alam sana, lalu ajak dia pulang. Mbak Giska juga harus bernegosiasi dengan Putri Sriwati agar mau melepas Mas Bima.”

***

Selanjutnya: A Way to Find You (Part 28)

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Part 30)

Berita Terkait

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:41 WIB

Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:38 WIB

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terbaru