Novel: A Way to Find You (Part 29)

- Penulis

Senin, 2 Desember 2024 - 09:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Sebelumnya: A Way to Find You (Part 28)

***

Novel: A Way to Find You (Part 29)

BAB 29

Usai membereskan sampah sisa makan siang mereka, Giska pun duduk di tengah tenda. Sementara itu, Edo dan Sekar duduk di hadapannya. Wajah ketiganya sama-sama dihiasi ekspresi tegang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kamu siap, Gis?” tanya Sekar.

Giska mengangguk. Ia mengalungkan tali berbandul kertas pemberian Jeng Asih di lehernya. Sebelum mulai berkonsentrasi, ia memberi pesan pada Edo dan Sekar, “Mas, Mbak, tolong jagain tubuhku di sini, ya. Aku nggak tahu apakah bakal lama atau sebentar. Aku juga nggak tahu apakah aku bakal berhasil. Kalau sekiranya aku terlalu lama nggak balik-balik ….” Giska memberi jeda sebentar untuk menelan ludah. Ditatapnya dua orang itu secara bergantian. “Tolong, bawa tubuhku turun.”

Giska memberi mereka kode soal kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Sekar langsung menggenggam tangan perempuan yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. Kedua matanya berkaca-kaca. “Kami bakal selalu doain kamu sama Bima, Gis. Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh nyerah. Kamu harus balik ke sini, oke?”

Giska tersenyum tipis dan hanya memberi anggukan samar. Kini, ia sudah benar-benar siap untuk merelakan apa saja demi sang suami. Giska pun memejamkan kedua mata. Dalam hati, ia merapalkan kalimat yang sudah ia hapalkan sejak semalam. Kalimat ini merupakan pemberian dari Asih juga, yang berfungsi sebagai sarananya untuk pergi ke alam gaib.

‘Dhuh Hyang ingkang pinaring gesang, kapareng kula ningali jembaring jagat.’ (Wahai Tuhan sang pemberi kehidupan, izinkan saya untuk melihat luasnya dunia.)

Selama beberapa menit, Giska terus mengulang kalimat tersebut, masih dengan mata tertutup. Suasana di sekitarnya terasa hening karena Edo dan Sekar tidak berbicara sedikit pun. Lama-lama, Giska merasa tubuhnya mendadak lemas. Otot-ototnya mati rasa. Tulang-tulangnya seperti dilepas satu per satu dari badannya. Namun, ia mencoba untuk terus bertahan. Tepat pada rapalan kalimatnya yang keseratus kali, Giska mendengar ada suara seorang lelaki yang memanggilnya. Arahnya dari luar tenda. Giska tidak mengenali suara tersebut.

“Anggiska.”

Akhirnya, Giska membuka mata. Perempuan itu langsung terkesiap. Edo dan Sekar telah menghilang dari hadapannya, dan pemandangan di sekelilingnya berubah menjadi lebih gelap. Suasana terasa seperti saat surup atau sore menjelang malam.

“Mbak? Mas?” panggilnya, sedikit panik.

Akan tetapi, yang menjawab justru suara lelaki asing tadi, “Anggiska.”

Mau tidak mau, Giska bangkit berdiri dan berjalan keluar tenda. Di depannya kini, berdiri seorang kakek bertubuh kurus dan berambut putih. Janggutnya yang dibiarkan tumbuh panjang sampai ke dada juga sudah dipenuhi uban. Ia mengenakan pakaian serba hitam tanpa alas kaki. Meski terlihat cukup berumur, badannya masih kokoh dan tegap.

“Ki Suko?” tanya Giska ragu-ragu.

Ki Suko mengangguk. “Ayo, kita harus segera jalan. Nggak baik ninggalin ragamu terlalu lama.” Tanpa basa-basi, Ki Suko berjalan mendahului Giska.

Giska buru-buru menyusul. Untuk terakhir kali, ia menoleh ke arah tenda warna biru tempat ia meninggalkan dunianya. Baru beberapa meter berjalan, perempuan itu memekik kaget. Tiba-tiba saja, ada banyak makhluk aneh yang muncul entah dari mana dan mulai mengerumuni tenda tersebut.

“A-apa itu, Ki?” tanya Giska gemetar. Baru kali ini ia melihat dengan mata kepala sendiri makhluk-makhluk yang berbentuk tidak wajar. Kebanyakan wujudnya menyerupai monyet besar berbulu gelap, tapi ada juga yang berbentuk wanita telanjang dengan rambut panjang menutupi badan. Selain itu, ada yang berbentuk manusia setengah ular, dan ada yang hanya berupa gumpalan asap hitam. Yang paling mengerikan menurut Giska adalah satu makhluk menyerupai manusia, tepatnya seorang laki-laki berbaju pendaki, tapi tubuhnya setengah hancur berlumuran darah.

Giska menelan ludah. Ia segera memalingkan wajah, tidak sanggup menatap makhluk-makhluk mengerikan itu lebih lama. Untuk saat ini, mereka seolah tidak menghiraukan keberadaan Giska dan Ki Suko. Makhluk-makhluk itu hanya tertarik pada satu-satunya tenda yang ada di area camp sana.

“Mereka jin yang ada di gunung ini,” kata Ki Suko tanpa menoleh sama sekali. “Saat ini, tubuhmu di alam sana sedang dalam keadaan kosong. Makhluk-makhluk itu tertarik untuk masuk ke tubuhmu, jadi mereka berkerumun di sekitar tenda.”

Giska menutup mulut dengan ekspresi ngeri.

“Tapi, jangan khawatir. Jimat yang diberi Asih adalah jimat pelindung. Mereka nggak bisa mengganggu tubuhmu selama kamu masih memegang jimat itu,” lanjut Ki Suko.

Giska spontan mengembuskan napas lega. Ia pun mengalihkan perhatiannya ke alam sekitar. Ia baru menyadari area di sekelilingnya tampak berbeda. Hutan menjadi lebih hijau dan rimbun. Jalan setapak yang seharusnya membentuk sebuah jalur pendakian kini tertutup oleh rerumputan. Mereka seolah berada di tengah gunung yang masih perawan.

‘Ternyata, alam gaib itu beneran ada,’ ucap Giska dalam hati. Segala macam bantahannya mengenai eksistensi dunia lain kini telah terpatahkan. Logikanya tidak lagi menjadi yang utama di sini. Memang nyatanya, manusia hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata, dan baru sekarang Giska percaya.

Giska yakin ia akan dengan mudah tersesat di area tanpa jalur ini. Akan tetapi, lain halnya dengan Ki Suko. Kakek itu dengan mantap berjalan ke satu arah, seakan tahu persis tempat tujuannya. Giska mengekor rapat di belakang si kakek. Ia tidak mau tiba-tiba terpisah dan tersesat di alam yang asing ini.

Keduanya terus berjalan menanjak. Beberapa kali, Giska melihat makhluk menyerupai monyet yang bergelantungan di atas pohon. Namun, ia tahu itu bukan monyet biasa. Bentuknya jauh lebih besar, dan di mulutnya tumbuh taring panjang ke atas. Kedua matanya merah menyala. Mereka mengeluarkan suara-suara geraman yang aneh dan mengganggu.

“Fokus ke depan aja, Nduk. Jangan lihat-lihat ke atas. Nanti mereka tertarik sama kamu,” tegur Ki Suko.

Baca Juga:  Novel : Choose Happiness (Part 17)

Giska langsung menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian, ia mendengar suara berdebam dan gemerisik semak di belakangnya. Seperti ada sesuatu bertubuh tinggi besar yang tengah melangkah ke arah mereka. Belum sempat Giska bertanya, Ki Suko sudah menjelaskan lebih dulu “Jangan takut. Itu Mbah Wiro. Beliau cuma jagain kita di sini. Udah, nggak usah dilihatin.”

Giska yang tadinya sudah akan menoleh untuk melihat sosok di belakangnya, kontan batal. Ia pun hanya menatap lurus ke depan. ‘Oke, nggak usah liat-liat ke atas sama ke belakang, entar malah celaka. Fokus, Gis!’

Mereka berjalan selama kurang lebih sepuluh menit. Karena Ki Suko tidak mengajaknya bicara, Giska pun sungkan mau bertanya-tanya, padahal ada banyak sekali hal yang ingin ia ketahui.

“Di depan, kita akan sampai di istana Putri Sriwati,” kata Ki Suko tiba-tiba.

Jantung Giska seakan melompat keluar. Ia langsung gugup setengah mati. Apa yang harus ia lakukan di kerajaan itu? Bagaimana caranya ia bernegosiasi dengan si putri yang telah menculik suaminya? Dan apakah ia bisa menemukan suaminya di sana?

Semua pertanyaan yang muncul dalam benaknya seketika terlupakan saat istana itu muncul di depan mata. Giska membelalak. Ia mengira, ‘kerajaan’ yang disebut-sebut oleh Jeng Asih dan Ki Suko itu berupa keraton zaman dulu yang tampak tua, suram, dan mengerikan. Namun ternyata, tempat yang kini ada di hadapan mereka adalah sebuah istana yang megah luar biasa. Istana itu dikelilingi tembok raksasa dan dibatasi oleh sebuah gerbang besi yang menjulang tinggi. Cahaya terang bergemerlapan dari dalam bangunan. Suasana di sekeliling mereka langsung terasa redup bila dibandingkan dengan istana tersebut.

Giska mendadak merapatkan diri ke Ki Suko. Begitu perhatiannya teralihkan dari istana tadi, ia baru menyadari ada dua lelaki bertubuh raksasa yang berdiri menjaga gerbang. Pakaian mereka seperti pakaian khas kerajaan zaman dahulu, dengan tombak besar bersepuh emas tergenggam di tangan mereka. Tinggi mereka mencapai dua meter lebih. Giska sampai harus mendongak untuk melihat wajah mereka.

Ono opo siro kabeh teko marang kene? (Mau apa kalian semua datang ke sini?)” tanya salah satu dari mereka sambil menghantamkan ujung tombaknya ke tanah, membuat Giska terlonjak kaget. Terlebih, suara pengawal itu menggelegar keras memecah keheningan hutan.

Yang menjawab justru bukan Ki Suko. Suara berdebam di belakang Giska kembali terdengar, kali ini semakin dekat, dan disusul dengan suara geraman. Giska kontan menoleh karena tidak bisa lagi menahan rasa penasaran. Di detik berikutnya, ia langsung menyesali keputusannya tersebut. Persis di sebelahnya, kini telah berdiri seekor harimau putih dengan tinggi mencapai tiga meter. Kaki dan cakar depannya yang begitu besar berada tepat di samping Giska. 

Mulut Giska menganga lebar. Mengikuti insting bertahan hidupnya, ia langsung beringsut menjauh dengan ekspresi kaget dan ketakutan. Si harimau putih melirik ke arah Giska. Ki Suko menepuk lengan perempuan itu untuk menenangkannya. “Itu Mbah Wiro,” bisiknya pada Giska.

“Hah?” Otak Giska serasa berhenti bekerja. ‘Jadi, Mbah Wiro itu harimau raksasa? Kenapa makhluk di alam ini gede-gede semua?’

Ki Suko tidak menjelaskan lebih lanjut pada Giska. Fokusnya beralih pada Mbah Wiro. Ia tampak menyimak saat harimau putih itu berkomunikasi secara batin dengan para penjaga gerbang. Hanya terdengar geraman-geraman rendah yang lolos dari sela-sela mulut Mbah Wiro.

“Mereka setuju. Mereka membiarkan kita masuk menemui Putri Sriwati,” bisik Ki Suko tanpa menoleh ke arah Giska.

Tak lama, Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, sesuai dengan ucapan Ki Suko. Saat si kakek  melangkah masuk, Giska langsung mengikuti. Ia menundukkan kepala menghindari tatapan dua orang penjaga yang berdiri menjulang di kanan-kiri gerbang. Sementara itu, Mbah Wiro alias harimau putih tadi tetap berdiri di tempatnya.

“Mbah Wiro nggak ikut masuk, Ki?” tanya Giska.

Ki Suko menggeleng. “Kehadirannya terlalu mengintimidasi. Kami takut Putri Sriwati menganggap kedatangan kita ke sini untuk mencari huru-hara.”

Giska hanya bergumam mengerti, meski dalam hati ia berpikir bahwa mereka ke sini memang untuk mencari perkara. Apa pun yang terjadi, ia akan merebut kembali suaminya dari putri sialan itu!

Seorang penjaga lain menyambut mereka di depan pintu utama. Tanpa berkata apa-apa, makhluk besar itu memberi kode agar Ki Suko dan Giska mengikutinya. Mereka pun masuk ke dalam.

Interior istana tidak kalah indah dengan penampakan luar. Segalanya tampak berkilau dan bernilai jual tinggi. Meski tidak menggunakan desain modern, ruangan di dalamnya tetap terasa megah dan mewah.

Si penjaga menuntun mereka ke sebuah ruangan di sayap timur istana, yang ternyata adalah ruang makan. Meja kayu besar yang muat untuk dua puluh orang terletak di tengah-tengahnya. Di atas meja tersebut, peralatan makan, lilin-lilin, serta bunga-bunga dekorasi telah ditata rapi.

Nduk, kalau disuguhi makanan, jangan makan apa pun selain buah-buahan.” Ki Suko memberi peringatan pada Giska yang duduk di sebelahnya.

“Baik, Ki.”

Beberapa wanita berkemben cokelat dengan rambut disanggul rapi mendadak muncul dari pintu. Mereka membawakan berbagai macam hidangan dan suguhan untuk kedua tamu mereka. Dalam sekejap, meja di hadapan Giska sudah terisi penuh oleh makanan. Ada nasi, lauk-pauk, sayur, buah-buahan, sampai jajanan pasar tradisional. Makanan-makanan itu tampak menggugah selera, tapi Giska sama sekali tidak tertarik. Tanpa Ki Suko larang pun, ia tidak akan mau mengambil makanan dari alam gaib seperti ini.

Giska tengah mengamati berbagai macam makanan di atas meja saat pintu ruang makan kembali terbuka. Dari sana, masuklah seorang wanita berparas ayu yang mengenakan busana mewah ala kerajaan zaman dulu. Pakaiannya didominasi warna merah marun. Mahkota emas bertengger di atas kepalanya. Berbagai perhiasan seperti kalung, gelang, anting, hingga ikat pinggang yang berkilau indah memenuhi tubuhnya. Ialah Putri Sriwati, sang penguasa alam gaib di Gunung Sumbing.

***

Selanjutnya: A Way to Find You (Part 30)

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Part 30)

Berita Terkait

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:41 WIB

Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:38 WIB

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terbaru