Faik mengembuskan napas keras. Ia merasa suaminya itu tidak perlu memaksakan diri untuk bekerja sekeras itu. Hidup mereka sudah cukup baik selama ini.
Kalaupun kurang, Faik masih mempunyai tabungan yang cukup banyak. Selain itu, tabungannya itu juga terus bertambah dengan sendirinya karena ia memiliki saham di perusahaan keluarganya yang kini dikelola sepenuhnya oleh adiknya setelah kematian mendadak kedua orang tuanya karena kecelakaan. Ia sama sekali tidak keberatan bila uang itu digunakan bila memang keluarga kecil mereka membutuhkan uang.
Namun, suaminya itu selalu bersikeras bahwa ia melakukan semua ini demi kebaikannya dan Ihsan. Faik akhirnya hanya bisa pasrah dengan keputusan suaminya untuk menghindari pertengkaran walaupun sebenarnya ia sangat menyayangkan keputusan suamianya itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah menemani Ihsan menghabiskan makan malamnya, Faik menemaninya main sejenak. Asisten rumah tangganya meminta izin untuk pulang setelah ia menunaikan salat magrib di kamar tamu.
Tinggallah Faik berdua dengan anaknya. Ia menyiapkan makan malam untuknya sendiri dan Fadli sambil menjaga anaknya yang asyik bermain.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, tidak ada tanda-tanda suaminya pulang. Ia sendiri sudah lapar sekali karena menunggu suaminya makan bersama.
Ia akan menghubungi suaminya saat anaknya menangis karena sudah mengantuk. Ia pun memutuskan untuk menidurkan anaknya dulu.
Setelah Ihsan pulas tertidur, ia melihat ponselnya. Ternyata Fadli sudah mengirimkan pesan yang menyatakan bahwa ia sudah makan malam karena harus lembur lagi malam ini. Faik begitu kecewa karena ia sudah merindukan suaminya yang ternyata lebih memilih untuk lembur daripada makan malam dengannya.
Ia akhirnya memakan makanannya yang sudah dingin sendirian. Ia kemudian memutuskan untuk menunggu suaminya pulang sambil membaca buku walaupun suaminya itu sudah berpesan agar tidak perlu menungguinya.
Faik seharusnya menurut saja pada pesan suaminya tersebut karena sampai ia menjatuhkan bukunya karena tertidur, suaminya masih juga belum pulang. Faik akhirnya memutuskan untuk tidur saja.
~Bersambung~
Halaman : 1 2