Selesai mesu budi, dia menyuruh ayah Toni untuk meminta Ratih kembali ke rumahnya, dia juga memberitahu kalau rumah keluarga Ratih mendapat serangan. Pagar gaib yang dipasangnya robek. Jika Ratih dan Toni tinggal bersama, serangan akan terfokus di kediaman Sumbogo. Erlika harus dihadapi bersama-sama.
“Barman!” panggilnya.
Barman yang sedang bersiap-siap mau ke kantor keluar kamar, menemui Mpek An Cong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ya, Mpek.”
“Kamu mau kemana? Keadaan tambah gawat, nyawa mantumu taruhannya. Masih ngurusi perusahaan. Biar si Daniel, tarik istrinya kalau perlu!”
“Tapi, Meimei kan juga sibuk, menangani hotel Semarang!”
“Di sana dia juga nggak sendiri!”
“Baiklah, Mpek. Kalau begitu kita sarapan dulu. Badan juga perlu makan. Energi Mpek sudah terkuras. Mpek harus sehat dan kuat.”
“Ngerti Bar, aku paham!” ucapnya sambil berdiri, dilanjutkan meregangkan otot, dan berlalu menuju ruang makan, Barman mengikutinya. Sementara Ninit ke kamar Toni, mengajaknya sarapan.
Sambil makan, Mpek An Cong mengutarakan kalau keadaan keluarga Ratih dalam bahaya terutama Ratih. Jlep, sesuatu yang tajam menghujam ulu hati Toni. Sejak dia disandera oleh kekasih pujaan hatinya, mata hati Toni mulai terbuka. Dia mengakui semua kata-kata Papahnya benar. Erlika yang cantik jelita, manis tutur katanya, sangat pandai membuat pasangannya bahagia, ternyata hitam pekat hatinya. Dia ambisius dan pendendam.
Sambil mengembuskan napas dalam keluhan, Toni bergumam dalam hati, apa lagi yang dilakukannya sekarang?
Desahan Toni terdengar, ketiganya menoleh ke arahnya. “Ada apa Ton?” tanya mereka hampir bersamaan. Toni mengembuskan napas kuat-kuat.
“Aku … aku menyesal. Sekarang Toni mohon Mpek melindungi Ratih!” katanya lirih. Air mata penyesalan berlinangan.
“Ton, Mpek sedang membicarakan masalah ini! Nanti, Papah bicarakan dengan ayah Rangga,” kata papahnya menenangkan.
Semua terdiam, Mpek menghabiskan sarapannya dengan sangat terburu-buru. Dia ingin melihat apa yang terjadi di kediaman istri Toni. Setelah sarapan, makan buah dan minum susu, energi Mpek An Cong seakan bertambah. Dia istirahat sebentar untuk memberi kesempatan perutnya mencerna semua makanan yang masuk dengan sempurna.
Setelah memusatkan semua akal budi ke arah rumah tinggal keluarga Danusaputra, Mpek An Cong merasakan energi positif yang cukup besar di sana. Dia harus mengetahui siapa pemilik energi itu, dan minta Barman menanyakan kepada Ayah Ratih.
Barman segera menghubungi ayah Ratih, ditunggu beberapa saat tidak diangkat. Sementara Rangga, tanpa melihat siapa yang menghubunginya langsung menolak lalu mematikan ponselnya. Barman mengklik sambungan cepat nomor Rangga dijawab mesin sedang berada diluar jangkauan.
“Kok ndak diangkat ya, sekarang malah diluar jangkauan! Ada apa?” gumamnya khawatir.
“Mpek, ndak diangkat. Sepertinya malah di-non aktifkan HP-nya,” lapor Barman.
“Siangan aja nanti. Sepertinya mereka sedang sibuk memagari rumah. Biasanya sih, serangan cuma malam hari,” jawab Mpek An Cong.
Mereka tidak mengetahui adanya serangan-serangan yang menggempur rumah besannya. Sekitar pukul 10.00, Barman menelepon lagi. Ponsel Rangga sudah aktif. Rangga minta maaf ponselnya dimatikan agar tidak mengganggu konsentrasi.
Rangga menceritakan kalau tepat tengah malam tadi ada serangan di kamar Ratih. Beruntung semua selamat. Rangga juga menceritakan, barusan ada serangan hujan batu kerikil, dan gelas yang dipegang Ratih pecah terkena kerikil. Kerikil-kerikil itu entah datang dari mana. Lalu disusul lemparan benda aneh yang memecahkan kaca jendela di ruang tamu, padahal jalanan sedang sepi. Barman benar-benar syok. Sedikit banyak dia punya andil dalam kesengsaraan Ratih yang telah dianggap seperti putrinya sendiri.
Setelah mengembuskan napas berat, Barman memberitahu Rangga, jika target utama kejahatan Erlika kecuali Toni memang Ratih. Mpek An Cong meminta agar Ratih kembali ke rumahnya, “agar Mpek bisa fokus dalam memagari keduanya. Mpek Cong juga tanya, siapa pemilik energi positif yang dirasakan ada di rumah njenengan.”
“Oh, mungkin itu energi Kangmas Narto, ipar istri saya,” jawab Rangga.
Kemudian Barman menyampaikan keinginan Mpek An Cong untuk bekerja sama dengan pemilik energi positif. Mpek An Cong ingin mereka bisa bersama-sama menghadapi dukun sakti suruhan Erlika yang mempunyai ilmu lebih tinggi dari yang sebelumnya.
“Terus terang, Mas Rangga, gadis tengik itu sekarang memakai jasa dukun yang lebih sakti. Itulah akar masalah sekarang. Mpek ingin menghancurkannya. Namun, dia butuh bantuan. Jika ada seseorang yang masih ada kaitan keluarga, itu akan lebih baik.”
Rangga terdiam, tidak segera mengiyakan. Dia masih trauma melihat penderitaan putrinya di rumah mertua. Dia cukup syok ketika istrinya melihat bilur-bilur biru bekas pukulan benda lentur di tubuh Ratih. Arum baru menceritakan saat sampai di rumah. Rangga hampir lepas kendali.
“Ini menyangkut Ratih. Aku tidak bisa menjawab sekarang. Kami diskusikan terlebih dahulu. Mas Barman, aku tidak mau putriku terkorban, hanya untuk bisa masuk dalam keluarga Sumbogo!” katanya lembut namun tegas. Sambungan terputus. Barman termangu, hatinya terluka, menatap nanar ponselnya tanpa berkedip.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya