Ratih terpaksa menikah karena mbak Ninit masuk ICCU. Dia juga terpaksa mau tinggal di sana demi kesehatan mbak Ninit. Lalu apa arti bilur-bilur di tubuh putriku? Itu hasil kerja manusia! Kenapa mereka tidak terbuka? gumam Rangga lirih dalam hati. Dia mengembuskan napas dengan gemas.
Rangga gelisah, Pakde memperhatikannya. Keraguan Rangga terbaca jelas. Dia merasakan sesuatu telah terjadi.
“Dimas, maaf. Aku lihat ada kegelisahan yang dimas Rangga rasakan. Kalau boleh tau, ada apa?”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah mengembuskan napas keras, untuk mengeluarkan gumpalan yang mengganjal di dadanya. Dilanjutkan memperbaiki duduknya, Rangga berdeham, lalu menyampaikan unek-uneknya.
“Kangmas, tadi keluarga Barman meminta Ratih kembali ke sana. Sebenarnya saya keberatan. Saya tidak tega melepasnya ke sana. Terlalu banyak penderitaan yang ditanggungnya. Dan lagi, Ratih … di–dia mengalami penganiayaan fisik ….” Rangga menangis tertahan, tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Seperti disengat lebah, Pakde terkejut.
“Apa? Katakan yang jelas!”
“Iya, Kangmas. Arum melihat bekas-bekasnya. Ketika ditanyakan, Ratih hanya menangis.”
“Siapa pelakunya?”
“Ratih hanya menangis, dia bungkam ketika ditanya. Padahal dia masih kesakitan, saat bundanya membaluri minyak gosok.”
“Sebenarnya ada apa dengan keluarga itu?” gumam lirih Pakde.
Keduanya terdiam, keadaan sunyi hanya terdengar zikir dan tadarus. Tiba-tiba Rangga berjengit, dia ingat sesuatu.
“Kangmas, Arum kemarin bilang, kalau mertua perempuan Ratih, bolak-balik minta maaf saat Ratih kesakitan. Ratih juga melepas pelukan menahan tangis dan kembali tiduran saat mertuanya masuk membawa obat. Arum mencurigainya.”
Pakde termangu-mangu. Keprihatinan yang dalam terpantul di wajah yang mulai tampak garis-garis usia mulai dalam. Rangga termenung dalam duka. Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara azan masuk waktu zuhur. Keempat laki-laki di rumah itu bergegas menuju masjid.
Selesai salat Zuhur berjamaah, Arum, Ratih dan Simbok berkumpul di dapur. Mereka menyiapkan makan siang. Mereka berbincang sambil makan. Rangga menyampaikan keinginan besan dan Mpek An Cong.
“Ratih nggak mau Ayah!” tolak Ratih dengan tegas.
Pakde dan Rangga saling menatap. Arum merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Aku juga keberatan, bisik Arum ketus dalam hati.
“Kenapa Nduk, kamu ndak mau? Itu rumah suamimu,” tanya Pakde dengan lembut.
“Ratih takut Pakde. Ratih mau di sini saja!”
“Assalamualaikum.” Tiba-tiba terdengar salam dari arah pintu samping.
“Waalaikumsalam,” jawaban mereka bersamaan, sambil menoleh.
“Yayo! Katanya seminggu yang lalu, mau dateng?” tanya bundanya. “Hayo makan sini. Mbok, minta piring, Yayo dateng!”
Setelah menyalami dan mencium tangan semua orang kecuali adiknya, Yayo duduk. Dengan tergopoh Simbok datang membawa perlengkapan makan tambahan.
“Den Yayo, datang kados angin! Simbok ndak dengar, lho.”
“Pakai jurus … menghilang! ….” kata Yayo sambil kedua tangan melakukan gerakan-geraka lucu membuat semua tertawa. “Simbok sehat, kan?” lanjutnya. Setelah menjawab pertanyaan momongannya, Simbok kembali ke ruang belakang.
“Pakde, tumben dateng? Bunda kok nggak crita? Tau gitu kan, bisa nebeng Pakde, gak usah beli bensin.”
“Mas Yayo kok gitu? Trus barang-barangnya gimana?” sergah Ratih.
“Kontraknya masih dua bulan lagi, eman-eman, ta. Klo ke Jogja kan, gak usah tidur di hotel,” jawabnya sambil cengengesan.
“Otakmu tuh nggak mau rugi, Yok,” sahut ayahnya.
“Sudah … makan dulu, critanya nanti. Terlalu panjang. Aku laper berat!” sahut Yayo.
Mereka meneruskan makan, disambung dengan cerita masalah Ratih. Dan kini, rumah mereka menjadi tidak aman dan nyaman lagi.
“Oh iya, masmu Bagas juga mau pulang, Yok. Minggu depan, katanya!” ujar bundanya.
“Mas Bagas dapet cuti, memang?” tanya Yayo.
“Mas Bagas pulang! Mau bantuin Ayah,” sahut Ratih.
“Serius, Ayah! Berarti …,” kata Yayo ngambang sambil senyum-senyum misterius.
“Gak jadi bantuin Ayah? Wis kono sakarepmu!” sergah ayahnya ketus.
“A–yah! Segitunya. Maksud Yayo, dua bulan ini, sambil ngabisin kontrak kamarnya, Yayo kelarin dulu kerjaan di sana.”
“Lho, kowe wis kerjo tah, Le?” sahut bundanya.
“Bun, Yayo kan dua tahun terakhir ini nyambi, lumayan kok gajinya.”
“Mas Yayo kok, diem-diem aja, ya! Pelit, mosok gaji pertama nggak bagi-bagi!”
“Bukan gitu … wah ngerti ngene ra sah crito.”
“Alah dasar pelit! Ayah, lihat … dari dulu mas Yayo pelit kan?” Ratih mengadu dengan manja.
“Duwitmu nggo opo, Yok?” tanya ayahnya.
“Pasti buat nlaktir pacarnya, Ayah. Mas Yayo, emang gitu,” sambar Ratih.
“Wah, kowe dah punya pacar to?” tanya bundanya.
“Belum Bun! Ratih aja tuh, ngaco!”4
“Sudah … sudah … kalian ini kalau jauh kangen, kalau dekat persis Tom & Jerry!” lerai bundanya. “Sekarang jelasin, kenapa pulangnya mundur!” lanjutnya.
Ikuti novel terkini dari Redaksiku di Google News atau WhatsApp Channel