“Ya … gitu. Mual, enggak nafsu makan, pusing. Kenapa gitu?”
“Kayaknya aku hamil, Mbak.”
Kali berikutnya, kudengar Mbak Monic menjerit-jerit kegirangan. Aku sampai harus memanggil namanya berkali-kali untuk memintanya diam dan bersikap tenang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Selamat, Han! Udah dites? Udah periksa ke dokter?”
Aku bisa mendengar kekecewaan sirna begitu saja dari suara Mbak Monic. Kemarahannya langsung digantikan oleh kebahagiaan yang terdengar begitu tulus. Namun, kebahagiaan dan ketulusannya malah membuat perasaanku memburuk. Aku merasa tidak pantas mendapatkannya.
Saat ingin kusampaikan kabar yang lain kepada Mbak Monic, Reivan datang dan mengetuk pintu berkali-kali. Rencanaku berubah seketika.
“Mbak, aku tetep liputan aja, deh. Tolong bilang ke temen Mbak, aku datangnya telat.” Langsung kumatikan telepon itu tanpa menunggu respons dari Mbak Monic.
***
Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang disampaikan narasumber saat konferensi pers berlangsung. Isi kepalaku penuh dengan berbagai pertanyaan dan kemungkinan. Apakah aku benar hamil? Mungkinkah aku hamil? Bagaimana kalau aku hamil?
Sepanjang waktu itu, aku tidak bisa berpikir jernih. Otakku sibuk melakukan perhitungan masa subur. Rasanya tidak mungkin aku hamil, tapi … bagaimana kalau aku benar-benar hamil? Argh!
Saat sesi tanya jawab dengan narasumber berlangsung, pikiranku sudah tidak ada di sana. Aku malah sibuk memikirkan tindakan apa yang harus kuambil jika yang kutakutkan menjadi kenyataan. Bagaimana cara memberi tahu Reivan? Bagaimana cara memberi tahu Papa, Mama, Bu Nawang, Bang Hadi ….
Tepuk tangan yang bergemuruh menyadarkanku bahwa aku masih berada di tengah-tengah lokasi liputan. Aku bergegas menengok ke belakang, mencari Reivan. Tentu saja ia ikut menemani meski tidak berada persis di dekatku.
“Ayo, kita pulang sekarang.”
Reivan mengangkat kepalanya dari layar ponsel. “Udah beres?” tanyanya seperti kebingungan. Kebingungannya terlihat berlipat ganda ketika penyelenggara acara mempersilakan awak media dan tamu undangan mencicipi jamuan yang mereka siapkan, tetapi aku tidak beranjak dari hadapannya.
“Tumben? Biasanya kamu ikut makan-makan sama doorstop dulu, kan?”
Doorstop adalah istilah untuk wawancara dengan narasumber yang dilakukan secara mendadak tanpa perjanjian terlebih dahulu. Aku selalu melakukan itu tiap kali mendapat kesempatan liputan, tujuannya untuk melengkapi bahan berita yang belum jelas atau justru membuat berita baru dari angle yang berbeda. Namun, malam itu ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan. Cukuplah mengandalkan press release dari penyelenggara sebagai sumber liputanku.
“Kamu sakit? Pucat banget mukanya.”
“Aku enggak enak badan.”
“Tunggu di sini sebentar, saya ambil mobil dulu. Nanti saya jemput.” Reivan tidak memberiku kesempatan menjawab.
Tidak berapa lama kemudian, Reivan kembali. Ia menuntun dan membantuku memasuki mobil lalu bertanya apa yang kurasakan. Tidak ada, tidak tahu. Aku hanya takut, dan panik, dan takut.
“Kita ke dokter, ya?”
“Enggak. Aku cuma perlu ke apotek sebentar.”
“Kamu perlu obat apa?”
Bagaimana cara menjawabnya? Aku tidak perlu obat, aku perlu membeli test pack untuk menegasikan kekhawatiranku sendiri.
“Lupa nama obatnya, tapi nanti pasti inget kalau udah ngomong sama apotekernya.”
Reivan tidak membantah. Ia membawaku ke apotek pertama yang kami temui dan bersiap turun menemaniku “membeli obat”. Tentu saja aku melarangnya, Reivan tidak boleh tahu apa yang kubeli.
“Aku bisa sendiri, kamu tunggu di sini.”
“Saya yang beli, kamu yang harus tunggu di sini karena kamu yang sakit. Udah inget nama obatnya?”
“Aku enggak inget nama obatnya, nanti aku bisa tanya ke apoteker.”
“Ya udah aku temenin.”
“Aku bilang tunggu, ya, tunggu di sini, Reivan! Enggak usah sok perhatian bisa enggak, sih?!”
Aku tidak menunggu Reivan membalas bentakanku. Takkan kupedulikan juga seandainya ia menimpali amarahku. Langsung saja kutinggalkan dirinya dan kulangkahkan kaki memasuki apotek. Di sana, tanpa banyak bertanya, kuborong lima jenis test pack yang ditawarkan oleh si apoteker.
“Ayo kita pulang sekarang.”
“Makan dulu, ya? Kamu tadi belum makan, kan. Mau makan—”
“Aku maunya pulang, Reivan, sekarang! Please! Enggak usah banyak tanya atau nawarin ini itu lagi. Ayo pulang!”
“Saya ada salah, ya?”
“Iya! Kamu banyak omong dan banyak tanya banget malam ini! Ayo pulang atau aku pulang sendiri sekarang!” []
Ikuti novel terkini dari Redaksiku di Google News atau WhatsApp Channel
Halaman : 1 2