“Kenapa harus kesindir? Itu semua fakta, kan?”
“Aku enggak suka kamu ngomong gitu!”
“Terus saya harus gimana? Saya harus diam, enggak boleh komentar? Semua tentang kamu saya harus tutup mulut?”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ya pokoknya jangan bahas apa-apa lagi soal Alston! Memangnya kenapa kalau aku pakai gaun hari ini? Di luar itu panas, aku pengin pakai baju yang longgar dan cuma baju ini yang aku bawa! Terus kenapa kalau aku belum mau sarapan? Biasanya juga aku skip sarapan, kan, karena perutku sakit, Reivan, dan aku mual kalau harus dipaksain makan! Lalu kenapa juga kalau aku mandi pagi hari ini? Aku cuma risih lihat kamar mandinya yang menerawang, aku enggak mau kamu lihat aku pas lagi mandi.”
“Jadi saya enggak boleh lihat kamu pas kamu lagi mandi tapi Alston boleh lihat kamu telanjang?”
Sebuah tamparan yang tidak kurencanakan mendarat telak di pipi kiri Reivan. Kata-kata itu terlalu menyakitkan untuk kuterima, bahkan meski kalimat itu mengandung kebenaran sekali pun.
“Aku udah minta maaf. Berkali-kali, berkali-kali …. Aku memang salah, Reivan, tapi enggak adil kalau kamu terus-terusan kayak gini. Aku udah mau pergi dari rumah kamu, aku udah pasrah seandainya kamu mau nyerein aku sekarang juga. Aku udah enggak mau ngelibatin kamu dalam masalah ini, tapi kamu yang ngajak aku ke sini! Kamu yang nyuruh aku untuk cari alamatnya! Ini semua rencana kamu, bukan aku! Satu-satunya rencanaku adalah ngegugurin kandungan ini, tapi itu juga kamu bilang enggak boleh, jadi sebetulnya kamu itu maunya aku gimana, sih?!”
Belum pernah kurasakan amarah sebesar hari itu. Aku begitu murka dengan semua hal buruk yang terjadi kepadaku. Aku adalah bom yang siap meledak, dan Reivan, dengan ceroboh, menekan tombol peledaknya.
“Aku enggak minta kamu untuk nemenin aku nyari Alston ke sini, aku enggak pernah minta kamu bawa aku ke sini! Yang aku mau itu hidupku kembali seperti semula, sebelum ada bayi ini! Sebelum aku selalu mual muntah setiap pagi! Aku muak! Aku capek! Lebih baik aku mati aja kalau gini! Aku muak sama diriku sendiri! Aku muak sama hidupku! Aku muak! Semua gara-gara bayi sialan ini!”
Kupukuli perutku. Kusalurkan rasa benci yang begitu dalam dalam setiap ayunan tanganku. Aku ingin bayi itu merasakannya, aku tidak menginginkannya, ayahnya tidak menginginkannya, tidak ada yang menginginkannya. Lebih baik dia mati! Dia telah memilih rahim yang salah!
“Ishana!”
Reivan merangkul sekaligus menjepit kedua lenganku hingga tidak bisa memukul lagi. Aku meronta sekuat tenaga, enggan mengalah pada keadaan yang menyudutkanku.
“Lepas! Biar aku mati! Biar aku mati sana anak ini.”
“Enggak-enggak. Saya minta maaf. Please. Maaf, setop!”
Rasa lelah yang menyerang membuatku terpaksa berhenti meronta. Aku kehilangan tenaga. Tanganku tak mampu bergerak, bahkan kakiku tak sanggup lagi berdiri tegak. Yang kurasakan hanyalah kesakitan dan keputusasaan. Aku tak tahu apa lagi yang bisa kulakukan. Aku tak mau menanggung rasa malu itu sendirian, tapi nyatanya saat itu pun aku tak berkawan. Semua orang memusuhiku. Tidak ada yang mengerti perasaanku apalagi mau membantuku.
“Maaf, maaf saya keterlaluan.”
Aku tidak peduli lagi dengan kata-kata Reivan, dia memang selalu begitu. Meminta maaf tapi kemudian melakukannya lagi. Dia selalu menyakitiku lalu membuatku tidak tega untuk tidak memaafkannya.
“Aku mau pulang. Bawa aku pulang. Sekarang. Aku mau pulang”
Reivan membaringkanku di kasur lalu membelai-belai tanganku. Aku memalingkan tatapan dari wajahnya dan menepis tangannya.
“Tapi kita udah di sini. Kamu harus ketemu Alston dulu. Kita harus minta pertanggungjawabannya”
Aku menggeleng. “Buat apa? Aku capek.” Saat mengatakan itu air mataku meluber.
Reivan menghela napas. “Maaf. Gara-gara saya. Maaf … saya cuma cemburu.” []
Ikuti novel terkini dari Redaksiku di Google News atau WhatsApp Channel
Halaman : 1 2