Setelah mengelap bibir kekasih hatinya, Toni memeluk dan menciumi seluruh wajah tunangannya. Erlika membalas pelukannya, mereka berpagutan melepas rindu yang tertahan begitu lama. Toni tersenyum merasa mantap dengan pilihannya. Erlika bergeser masih dalam balutan selimutnya.
“Emang nggak capek, Mas. Berbaringlah, biar aku bisa melihat wajah gantengmu dari dekat. Aku pengen menyentuh seluruh wajahmu,” katanya manja. Menyentuh tubuhmu juga. Kau sudah menikmati tubuh wanita, tidak sulit membakar nafsumu, Mas! lanjutnya dalam hati. Matanya berkilat, bibirnya tersenyum miring dalam keremangan kamar.
Dengan ragu Toni merebahkan diri di samping gadis pujaannya. Dia memang lelah. Erlika meraih tangan Toni, menggunakannya sebagai bantal, lalu menghadap prianya. Keduanya ngobrol dalam kemesraan. Lama-lama tangan Erlika melingkar di pinggang Toni. Setelah larut malam Toni pamit pulang. Dia berjanji besok akan datang lagi menikmati kebersamaan seharian. Erlika tidak mau ditinggal. Dia sudah nekat akan menjebak Toni, tunangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT