Toni syok berat, dia terempas dalam penyesalan. Dia teringat pesan dokter yang merawat mamahnya. Toni panik! Istrinya masuk rumah sakit juga gara-gara ulahnya. Sekarang mamahnya dalam kondisi mengkhawatirkan dampak dari kepergian Ratih tanpa pamit. Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan semuanya.
Siang sampai sore, Toni menelpon pak Bastian ke ponselnya selalu ditolak. Dia memaklumi jika nomornya dianggap sebagai nomor tidak dikenal. Saat menghubungi nomor telepon kantor, dijawab oleh seorang wanita, kalau pak Bastian sedang tidak di tempat. Kepalanya benar-benar pening. Sekarang istrinya berada di rumah sakit entah bagaimana kondisinya.
“Nanti kamu langsung ke Geriatri pakai mobilmu. Beri kabar tentang keadaan Ratih. Sampaikan pada Ayah, Papah mengurus mamahmu yang syok berat, dan kondisinya tidak bisa ditinggal.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Toni terdiam, kedua tangannya saling bertautan dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Hatinya seperti luka disiram cuka. Keegoisannya mementingkan bukti dia diracun, mengabaikan usahanya mencari Ratih. Nuraninya menghujat, menyalahkannya. Dia semakin terpojok dengan tuduhan pencabulan oleh hati nuraninya sendiri.
Dia, Toni, seorang CEO yang sukses menggantikan ayahnya, terlibat pencabulan, memalukan sekali. Bagaimana jika masyarakat mengetahuinya. Toni mengembuskan napas keras melegakan dadanya. Kepalanya disangga tangan kirinya sambil bersandar di kaca pintu.
Bagaimana jika Mamah dan Papah mengetahui keadaan yang sebenarnya? Baru mengetahui Ratih masuk rumah sakit saja Mamah sudah down! keluhnya dalam hati.
Sampai rumah, mobil diparkir di depan teras. Barman langsung menyuruh Toni pergi ke Geriatri. Apapun alasan Toni tidak digubris. Dengan terbirit-birit Barman masuk rumah. Toni langsung ke garasi mengambil mobilnya.
Sambil mengelus mobil Ratih, romantismenya muncul. Toni terisak lirih dan bergumam, “tolong doakan majikanmu cepat sembuh lahir dan batin.”
Sambil menghapus air mata dengan saputangan, Toni masuk mobil lalu meninggalkan rumahnya menuju rumah sakit tempat istrinya dirawat. Arloji tipis yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya menunjukan waktu hampir pukul 20. Dia meluncur di jalanan yang tidak begitu ramai.
Dari tempat parkir Toni terburu-buru menuju paviliun Abiyasa Ruang Adenium lantai 4. Sampai di depan pintu VVIP B no. 403 tempat Ratih dirawat, Toni tertegun. Dia merasa ragu untuk masuk, tapi hatinya ingin segera melihat kondisi istrinya. Sambil menahan napas, perlahan dia membuka pintu, bertepatan dengan Ratih membuka matanya.