Cinta mengalahkan segalanya. Karena dia tidak ada kakak dan adiknya. No choice but love. Itulah jika panah cupid sudah menancap, dunia adalah miliknya. Kekasih hati yang selalu melela di matanya. Hanya kerinduan yang ada, dan pertemuan obatnya.
“Sayang, jangan lupa besok dandan yang cantik, ok? Kita makan siang berdua,” ajak Toni. Tanpa menunggu jawaban dia segera memutus sambungan sambil senyum-senyum sendiri. Hatinya puas mengerjai Erlika, tunangannya.
Di seberang sana, Erlika penasaran. Belum sempat menjawab sepatah pun sambungan diputus sepihak. Dia gemas sekali. Dia buru-buru memencet nomor darurat. Nomor tersambung, tapi tidak diangkat. Tiga kali sambungan hasilnya nihil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awas kamu, Mas!” gumamnya kesal. Tiba-tiba …
“Lika! Kau dibayar untuk kerja! Bukannya main HP! Jangan mentang-mentang dekat dengan Dirut, ya! Kerjakan ini, harus selesai hari ini, kalau perlu lembur!” sembur bu Rani, atasan langsungnya, dengan nada tinggi. Lalu menaruh berkas dengan kasar di meja Erlika. Bu Rani berbalik dengan kesal lalu masuk ke ruangannya.
Awas nanti kalau aku sudah jadi nyonya Astono! gerutu Erlika sebal.
Teman-teman satu ruangan saling berbisik. Mencuri-curi pandang dengan tatapan sinis. Sejak dekat dengan Toni, Erlika yang semula gadis unyu, mulai meninggikan dagu. Berusaha menunjukkan levelnya di atas rekan-rekan kerjanya.
Busana sederhananya berganti produk buatan butik dengan model yang menampakkan lekuk tubuh yang seksi. Belum lagi tas dan sepatunya. Tiap hari berangkat dan pulang dengan mobil online. Ojek langganan dilupakannya.
Riasan standar, berganti dengan riasan seperti artis. Wajah cantik alami makin nampak kinclong. Membuat iri rekan kerja wanita. Gayanya sangat menarik perhatian lawan jenis. Banyak pria jomblo tersingkir dan patah hati. Erlika menjadi bahan pembicaraan di kantornya.
Toni menjamin kehidupannya. Dia memberikan ATM tabungan pribadinya untuk keperluan hidup tunangannya. Erlika bebas menggunakannya. Sebagai perempuan yang mempunyai keterbatasan finansial, jelas seperti menemukan harta karun. Nafsu belanjanya naik drastis, apa yang dulu hanya impian, kini dia mampu menjadikan kenyataan.
Setiap Toni melakukan kunjungan kerja, Erlita sering diajak dengan dalih menemani sekretarisnya. Kesempatan baginya untuk bergaya di hotel ternama sebagai bahan postingan. Follower akun sosmed-nya melambung. Postingannya dalam berbagai gaya sangat disukai netizen. Tanpa sadar, dia ikut menaikkan rating hunian hotel-hotel milik grup ANCALA.
Erlika terkenang pertemuan pertama dengan Toni. Waktu itu, ada acara perkenalan Dirut Kantor Pusat yang baru, menggantikan ayahnya, Ir. Barman Heru Sumbogo. Ayah Toni seorang pengusaha terkenal yang sukses mengembangkan bisnis perhotelan. Hotelnya tersebar hampir di setiap provinsi di Indonesia.
“Kabarnya, pak Astono baru pulang dari Amrik. Dia mengambil Master Manajemen,” bisik seorang petugas dapur.
“Bukannya dia insinyur elektro?” sanggah temannya.
“Dia itu kelebihan otak, nggak kaya’ kowe, Ndul! Dia mengambil Master Elektronika dan Lisensi Internasional White Hacker.”
“Terus Master Manajemennya?” cecar temannya yang dipanggil Ndul, dia masih tidak percaya.
“Beres Master Elektronika, ngambil Manajemen. Makanya, jadwal pulang mundur. Harusnya, pergantian Dirut tahun kemaren,” jelas pembicara pertama.
Mendengar itu Erlika membatin, hebat sekali pak Dirut baru! Kaya apa sih orangnya? Saat itu, Erlika bertugas mengawasi meja konsumsi. Dia sedang memperhatikan petugas dapur menyiapkan minuman dan menata snack.
Tampak Petugas penyambutan berlarian, dengan sigap mereka berbaris menyambut kedatangan pak Barman dan putranya. Para undangan berdiri menyambut dari tempat duduknya di Ballroom.
Dengan anggun penuh pesona, Toni melangkah masuk lobby bersama ayahnya diiringi petugas penyambutan. Dalam balutan jas resmi berwarna biru tua, dipadu hem biru muda, dia tampak segar. Memakai dasi motif garis miring berwarna biru tua dengan bahan dasar nylon biru muda. Dasi dijepit dengan jepitan dasi berhias blue diamond di ujungnya menambah nilai plus penampilannya. Senyum ramah terus tersungging di bibir kemerahan yang tidak pernah tersentuh rokok. Semua mata dengan tatapan kagum tertuju padanya. Setelah semua duduk, acara perkenalan dimulai.
Erlika mengontrol kesiapan meja penyajian baik makanan ringan, minuman maupun menu utama. Saat perkenalan berlangsung, Erlika hanya mengintip dari pintu ruang makan. Di atas podium seorang pemuda akhir 20an sedang memperkenalkan diri.
Penampilannya anggun dan sangat berkarisma, balutan busana pas di badan menonjolkan warnakulitnya. Suaranya dalam dan tegas, dengan tatapan tajam kedepan. Sekali-sekali menatap para tamu dengan senyum ramah tersungging di bibirnya, menebarkan aura seorang pemimpin. Para tamu undangan tampak saling berbisik. Tamu undangan di sekitar Pak Komisaris menyalami sambil memberikan ucapan selamat.
“Ternyata ganteng sekali seperti bapaknya. Tapi matanya lebih lebar, mungkin seperti ibunya. Smart and gorgeous!” gumam Erlita lirih, “masih muda sudah memimpin perusahaan besar, gila!” lanjutnya penuh kekaguman.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya