Diembuskan napasnya keras-keras untuk melegakan dada. Tiba-tiba netranya berbinar, lalu menjentikkan kedua jari. Toni segera berdiri dan berlalu menuju sebuah rak tinggi hingga mencapai plafon. Bagian paling bawah mempunyai empat pintu lemari.
Toni membuka pintu kedua dari kanan, tampak sebuah brankas kecil. Dia mengambil selembar kertas dari brankas. Pintu lemari ditutup lalu kembali duduk. Dengan seksama dia membaca semua yang tertulis sambil tersenyum.
“Syukurlah, hampir saja aku melupakannya. Bisa-bisa aku akan kehilangan Mamah. Maafkan Toni, Mah,” desahnya lirih dengan wajah sendu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akhirnya, Toni dan Ratih berhasil membuat foto-foto dan video adegan mesra mereka. Di tengah pengambilan foto dan video, Toni menceritakan kondisi kesehatan mamahnya. Ratih terkejut, tanpa terasa air mata kesedihan bergulir dari sudut mata beningnya.
“Tapi tidak di rawat, kan?” tanya Ratih prihatin. Toni tersenyum sendu.
“Kalau dengar tentang postingan itu, Mamah pasti marah dan sedih. Itu sangat berpengaruh pada jantungnya,” jelas Toni.
Hati Ratih memang mudah tersentuh. Apalagi menyangkut kesehatan Ninit yang dipanggil Mamah. Baginya, Mamah Ninit adalah ibu keduanya.
Ada desir halus di dada Toni. Netranya mencuri-curi pandang menatap istrinya. Dia mengagumi keayuan wajah istrinya. Matanya lindri-lindri kata orang jawa. Hatinya juga lembut, gumamnya dalam hati. Toni tersenyum geli melihat Ratih tampak asyik menikmati landscape background pengambilan foto.
“Gila tuh orang. Bener-bener ya, emangnya lagi piknik apa. Nyebelin!” gumam Toni lirih. Ratih menoleh mendengar gumaman suaminya, keduanya tersenyum lebar.
“Landscape-nya cantik sekali,” kata Ratih gembira.
“Kamu menyukainya?” tanya Toni sambil mendekat. Ratih mengangguk antusias.
Toni menjelaskan tentang hotel dan sekitarnya. Tampak binar bahagia di netra indah Ratih. Toni terpesona, cuilan apel yang nyangkut di tenggorokannya naik turun.
“Berliburlah kemari untuk healing. Ajaklah beberapa temanmu. Di sini juga bisa jogging pagi. Atau mungkin mau eksplor jelajah hutan di sebelah sana, kata Toni sambil menunjuk arah hutan yang tampak masih alami.
“Hiii, takut. Kami kan cewek-cewek!”
“Bersama pengunjung lainlah. Ada pemandunya juga kok!”
“Asyik, terima kasih, Mas.” Matanya langsung berbinar-binar, wajahnya berseri gembira. Kecantikannya memancar penuh pesona.
Tanpa sadar Toni menelan saliva. Tatapannya tak hendak dialihkan. Rasa nyaman mengelus lembut kalbunya. Bibirnya menyungging senyum tipis. Rasa yang tidak dia rasakan saat bersama Erlika.
Sontak wajah Toni memerah saat Erlika hadir dalam benaknya. Wanita yang telah membius dengan kecantikannya. Toni menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan Erlika. Amarahnya pada kelakuan Erika belum sirna.
Sekarang Toni mulai bingung menghadapi ancaman kesehatan mamahnya. Dokter memberitahu, jika mamahnya mengalami kekecewaan berat, kondisi jantungnya tidak bisa menanggungnya. Toni merasa bersalah, bagaimana pun mamahnya bermaksud baik, namun hatinya sudah terjerat cinta wanita pilihan hatinya. Dia lalu mengajak Ratih untuk tinggal di kediaman Sumbogo.
“Mamah akan tenang melihat kita bersama di rumah. Untuk keperluan kegiatanmu, akan kubelikan mobil. Ada sopir khusus untukmu!” bujuknya.
“Tapi …,” kata Ratih gamang.
“Nggak usah takut, aku tidur di sofa ruang kerjaku! Aku juga lebih sering tinggal di vila. Yang penting, kamu ada di sisinya,” sahut Toni. “Ada rencana akan berkantor di Semarang untuk memudahkan mobilitas. Aku merasa lebih tenang jika kau bersama Mamah dan Papah,” lanjutnya.
“Kau … mengkhawatirkanku?” tanya Ratih sambil membelalakkan mata karena terkejut.
“Mmm–maksudku eee,” Toni tergagap bingung. Dia keceplosan, wajahnya memerah malu.
“Maaf, maksudku Mamah, tidak tahan jika ada yang berkunjung ke rumah, sedang kamu tidak ada. Orang lain akan memberikan penilaian negatif. Aku mohon, tinggallah di rumahku.”
“Nantilah, kupikirkan dulu. Lagian, aku kan, tinggal di rumah orang tuaku.”
“Iya, tapi istri kan, harusnya tinggal di rumah suami.”
HP di genggaman Toni tiba-tiba bergetar mengejutkannya. Hampir saja HP-nya terlepas dari genggaman. Nama Bagas muncul di layar. Segera sambungan diterima. Melihat suaminya seperti gagap menerima telepon, Ratih memilih untuk menjauh. Dia ingin melihat hasil foto-foto hari itu.
“Ton, dimana, kau?” tanya Bagas tanpa basa basi dalam nada tinggi.
“Di Jogja, Gas. Ada sesi foto …”
“Prewed?” teriak Bagas.
Toni gelagapan. Belum lagi sempat menjawab, Bagas langsung menyemprotnya bak rambo yang menembakkan senapan mitraliur.
“Bener-bener, kamu Ton! Gak ada basa-basinya! Aku mau bicara denganmu, atur waktu dan tempat secepatnya. Ketemu di Semarang!” kata Bagas lugas.
“Gas, kenapa nggak di Purwokerto aja?”
“Lama, perjalanannya. Cutiku habis buat ngurusin pernikahanmu. Sekarang, kau malah meledek kami! Nggak mengapresiasi blas, semua kesibukan dan kerepotan kami. Adikku kau buang begitu saja! Kutunggu beritanya!” Bagas langsung menutup sambungan secara sepihak.
Toni duduk terlongong sambil menatap nanar gadgetnya. Bagas, teman masa kecil sampai SMA. Teman satu tim Panjat Tebing tingkat provinsi. Masalah baru, muncul lagi menambah keruwetan hidupnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya