Jadi … itulah sebabnya aku berada di kantor di hari Senin pagi, duduk di tempat kerjaku, dan menyambut Mbak Monic—yang mengira aku kabur dari Reivan—dengan senyuman penuh sukacita. Namun, tentu saja aku tidak mungkin menyampaikan hal itu terang-terangan kepada Mbak Monic. Bagaimanapun, tidak boleh ada yang tahu isi dapur rumah tanggaku selain aku dan Reivan sendiri. Dan Alston.
“Tenang, Mbak. Aku kerja juga udah seizin suamiku, kok. Malah tadi dia yang nganterin aku ke sini.”
Mbak Monic, redaktur sekaligus koordinator liputan di portal berita sebarkabarbenar.com itu masih berdiri di ambang pintu. Ia menilaiku, dari atas ke bawah lalu ke atas lagi, melalui tatapannya yang penuh penghakiman. Setelah beberapa menit berlalu, ia berdecih kemudian pergi ke ruangannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kumanfaatkan kesempatan itu untuk membuka kotak email kantor. Benar saja, ada beberapa undangan liputan yang masuk. Kutanyakan kepada Mbak Monic, tugas liputan mana yang boleh kuhadiri. Setelah Mbak Monic merespons, aku segera mengabari Alston.
Bee, aku ada liputan pameran UMKM di Ciwalk
Jam dua
I’ll see you there?
Sesuai harapan, tidak perlu menunggu lama Alston pun langsung mengirimkan pesan balasan untukku.
Aku gada jadwal ke sana
Tapi aku bisa mampir
Jemput, ya
Aku gak bawa mobil hari ini
Oke, Honey!
Tunggu ya
Senyumku merekah. Akhirnya … setelah tiga hari yang panjang, aku akan bisa menuntaskan kerinduanku kepada Alston. Ah, senangnya bisa punya alasan dan pembenaran untuk bertemu dengannya!
***
“Jadi gimana orangnya suamimu itu? Siapa namanya?”
“Reivan.”
“Ya. Lebih keren mana? Aku atau dia?”
Kutatap Alston dengan saksama. Saat itu waktu menunjukkan pukul lima sore. Aku duduk bersebelahan dengannya di kursi depan mobil yang ia kendarai.
Sebelumnya, tepat jam dua siang tadi aku datang ke Ciwalk untuk meliput pameran UMKM. Beberapa teman media lain yang turut hadir di sana menyambutku dengan riang gembira, sebagian besar malah tak percaya karena aku sudah kembali bekerja. Untung saja hari itu Alston tidak mendapat tugas liputan yang sama denganku, karena bisa gawat kalau aku kepergok jalan berduaan dengannya. Setelah itu akan lebih hati-hati memilih tugas liputan agar tidak terkesan seperti sengaja membuat janji temu dengan pacarku sendiri.
Press release berjalan cukup panjang, sekitar satu setengah jam. Selama itu aku terus berkomunikasi dengan Alston. Ketika akhirnya ia tiba di Ciwalk, aku memintanya menunggu sambil berkeliling di supermarket. Kecil kemungkinan teman-teman pers akan bertemu Alston di sana.
Setelah selesai, aku buru-buru meninggalkan lokasi liputan. Kusambut Alston dengan pelukan lalu kuajak kekasihku itu ke parkiran mobil lewat tangga darurat. Aku benar-benar jago main petak umpet!
“Hei! Malah bengong. Keren mana aku sama si Reivan?”
“Tunggu sebentar, lah.” Aku menimpali sambil tertawa. “Aku, kan, lagi menilai kalian. Kalau dari kulit, kamu lebih keren, Bee. Kulit Reivan itu lebih cokelat dibanding kamu. Aku lebih suka cowok putihan kayak kamu. Terus dari muka …”—aku pura-pura berpikir sulit—“kayaknya menang dia, deh.”
Alston berdecak lalu cemberut. Bibir tipisnya menekuk, hanya untuk mempertegas garis rahangnya yang memang sudah terlihat jelas. Melihatnya seperti itu membuatku tak mampu menahan diri untuk menyentuh dagunya yang berjanggut tipis. Terasa menggelikan di telapak tanganku.
“Jangan ngerajuk gitu, dong, Bee ….”
“Bete aku dengernya.”
“Aku bercanda, Sayang. Gantengan kamu ke mana-mana dibanding Reivan, sumpah! Udahan ngambeknya, dong. Aku enggak pengin kesempatan berduaan sama kamu dihabisin kayak gini.”
Perlahan tapi pasti, senyum di wajah Alston mengembang. Ah, mudah sekali membuatnya senang.
Alston mengulurkan lengan kirinya ke arahku. Kusodorkan tangan kananku kepadanya. Ia menarik tanganku itu kemudian mengecup lembut bagian punggungnya. Darahku berdesir, sesuatu dalam tubuhku langsung bergetar kesenangan karenanya perbuatannya. Setelahnya, tangan kami saling bertaut. Tiap jemari kami saling menekan seakan-akan enggan lagi dipisahkan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.
“Sebentar, Bee.”
Aku melepas genggaman tangan kami lalu mengaduk-aduk isi tas, mencari ponsel yang berdering nyaring. Mbak Monic telepon, sesuatu yang jarang terjadi. Apa ada tugas liputan yang kulewatkan? Apa aku akan diminta menaikkan artikel liputan cito? Tapi, tadi itu hanya liputan ringan—
“Halo, Mbak?”
“Di mana, Na?”
“Di jalan ….”
“Di jalan di mana? Habis ngapain? Sama siapa?”
Aku melirik Alston. Karena ia terkesan penarasan dengan percakapanku, maka segera saja kusetel panggilan Mbak Monic ke mode pengeras suara.
“Masih di Cihampelas, habis liputan dari Ciwalk.”
“Sendiri? Memangnya lu bawa mobil?”
“Enggak bawa, Mbak. Aku … nebeng Alston.”
“Gila, lu!”
Aku dan Alston bertukar pandang sesaat.
“Suami lu datang ngejemput ke kantor. Gue harus bilang apa? Bilang lu liputan sambil pacaran bareng si Beton? Nyebut, Na! Lu udah jadi bini orang!” []
Jangan lupa baca bab sebelumnya di https://www.redaksiku.com/room-for-two-bab-2-menuju-kebebasan-dan-melampauinya/
Halaman : 1 2