Novel : Senja Membawamu Kembali ( Part 6 )

- Penulis

Rabu, 2 Oktober 2024 - 19:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Senja Membawamu kembali

Senja Membawamu kembali

Nikah Siri

 

“Man, kalau ngomong yang jelas, dong. Maksud lo, apa?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Manda memandangi Ayyara dengan tatapan iba. “Waktu zaman kuliah S1 dulu, Aby memang udah jadi incaran para cewek. Nggak cuma karena tampangnya sebagai cowok blasteran Jawa-Belanda-Chinese, tapi juga karena keenceran otaknya.”
Ayyara mesem-mesem mendengar temannya memuji sang suami. Dia tidak pernah tahu seberpengaruh itu Abyan di kampusnya.
“Saat itu, gue cuma tahu kalian berdua saling suka, tapi terhalang jarak. Aby di Depok sementara lo di Bandung. Jadi, pas dia deket sama cewek manapun, gue masih biasa saja.” Manda memandang Ayyara sambil mencomot lapis talas yang ada di atas meja. Dia memperhatikan perubahan ekspresi wajah temannya ini, tapi ternyata malah mesem-mesem.
“Eh, lo kok, malah senyum-senyum gitu? Memang nggak cemburu?” Manda penasaran.
“Terus maunya lo, gimana? Gue marah-marah atau nangis-nangis? Lagian, itu semua kan, sudah berlalu.” Ayyara masih menanggapinya dengan sikap tenang.
“Oh, iya juga, ya?” Manda tertawa. “Eh, tapi cerita gue belum kelar.”
Ayyara ikut terkikik. “Oh, oke, oke, terus?”
“Seperti yang gue bilang tadi, otak dia itu encer, jadi banyak disukai dosen. Dia tuh, nggak melamar juga sudah langsung ditawarin jadi asdos. Makin-makinlah itu para mahasiswi baru ngintilin dia,” tutur Manda dengan bibir sedikit mencucu. “Gue pikir, semua akan berhenti sampai di situ. Apalagi habis lulus S1, kalian berdua langsung nikah, gue syok sekaligus senang karena Abyan nggak jatuh ke tangan yang salah.”
Ayyara tergelak. “Gue berasa jadi solusi gitu.”
“Eh, tapi memang benar. Gue mikirnya begitu. Cuma sayangnya, harapan gue nggak berjalan mulus 100%.” Terdengar adanya penyesalan dari Manda.
“Harapan yang mana?” Ayyara mengerutkan kening.
“Mbak … Mbak Ayya!” Suara Gita yang setengah berteriak membuyarkan lamunan Ayyara.
“Oh, hai … maaf. Kenapa, Git?” Ayyara tergagap.
Gita kembali geleng-geleng kepala. Akhir-akhir ini, kakaknya itu memang sering terlihat melamun. Padahal, dokter sudah mewanti-wanti jangan sampai banyak pikiran agar proses penyembuhannya bisa lebih cepat.
“Kenapa, sih Mbak? Ngelamun lagi? Sampai 3 kali, lho … aku panggil-panggil nggak nengok.” Gita menggerutu.
Ayyara sedikit salah tingkah karena kembali terciduk sedang melamun. “Nggak, kok. Maaf, ya.”
Gita menarik napas. “Itu, lho, makanannya sudah siap. Apa Mbak mau makan sekarang?”
“Oh, ayo-ayo … kebetulan sudah lapar juga.” Sebelum Gita bertanya macam-macam, Ayyara langsung bangkit dari duduknya dan segera menggandeng sang adik menuju ruang makan.
Tidak terasa, setelah sebulan perawatan di rumah, Ayyara mulai bisa beraktivitas lagi, meskipun belum optimal. Seperti untuk urusan antar-jemput anak sekolah, masih dilakukan oleh Abyan atau sesekali dibantu Gita ketika ayah dua anak ini harus bekerja keluar kota.
“Hai, Sayang … kamu habis dari mana?” Abyan bertanya ketika Ayyara baru saja masuk ke rumah, sementara dia sudah terlebih dulu datang setelah menjemput anak-anaknya pulang sekolah.
Ayyara tidak menanggapi ucapan suaminya, dia hanya mendelik dan berlalu begitu saja. Terang saja hal ini membuat Abyan keheranan. Dia pun mengikuti sang istri yang melangkah menuju kamar.
Samar-samar terdengar suara tawa Zayyan dan Tsabita dari ruang keluarga. Sepertinya, anak-anak itu sedang menonton film kartun favorit mereka sehingga tidak menyadari kedatangan ibunya.
Ayyara langsung masuk kamar dan Abyan mengikutinya dari belakang. Lelaki itu menutup pintu begitu mereka sudah di dalam. “Sayang, aku tanya kamu, lho … kok, nggak dijawab, sih?”
Ayyara menghentikan langkanya, lalu berbalik menghadap sang suami yang berdiri tak jauh darinya. Saat itu, dia mengenakan celana bahan model wide-leg pants—memiliki potongan yang hanya lurus  saja dari bagian paha sampai mata kaki dengan ukuran yang cukup lebar—berwarna krem yang dipadukan dengan blus polos warna senada.
Untuk mempercantik penampilannya, Ayyara juga menambahkan blazer panjang warna moka sebagai luaran, senada dengan jilbabnya. Terlihat sederhana, tapi tidak mengurangi pesona ibu dua anak ini.
“Mas, sebulan lalu saat kamu terlambat jemput aku, itu beneran urusan kerja?” Ayyara menatap tajam pada suaminya.
Abyan terlihat sedikit terkejut. Dia memiringkan kepala dengan kening berkerut seolah tengah memanggil rangkaian peristiwa yang sudah terlewati. “Sebulan lalu?” Dia meletakkan sebelah tangannya di dagu.
“Ya, hari di mana aku keluar dari rumah sakit.”
“Ooh, itu. I – iya, sore itu memang aku ada urusan kerjaan dulu.” Jawaban Abyan terdengar kurang meyakinkan.
Sebelah ujung bibir Ayyara terangkat seiring dengan keluarnya suara dengkusan dari mulutnya. Dengan kepala tertunduk, dia sedikit mengangkat tote bag di tangannya, lalu mengeluarkan beberapa lembar foto.
Wanita ini berjalan mendekati Abyan, tepat di hadapannya dia pukulkan foto tersebut ke dadanya. “Ow, jadi seperti itu cara kerjanya? Duduk berdua dengan wanita di kafe, menikmati hidangan favorit dan bicara bisik-bisik?” Pertanyaan Ayyara terdengar sinis.
Abyan segera menangkap foto-foto tersebut sebelum berjatuhan ke lantai. Dia mengamatinya masih dengan dahi mengernyit. “Kamu dapat foto-foto ini dari mana?”
Wajah Ayyara mulai memerah dengan bibir terkatup rapat, tapi tatapan matanya begitu menusuk. “Nggak penting dari mana aku tahu. Sekarang, jawab saja pertanyaanku tadi!”
Abyan menarik napas dalam-dalam. Matanya tampak terkulai. Sesaat, dia melihat ke arah istrinya, tapi kemudian, menoleh ke sembarang. “Iya, Ay … beneran ini urusan kerja.”
“Mas! Hanya cewek bego yang menganggap adegan tersebut urusan kerjaan.” Ayyara kembali meninggalkan suaranya. “Dia itu yang namanya Lidya, kan?”
Abyan tidak mengelak, dia mengiyakan dengan anggukan. “Tapi memang benar ini urusan kerjaan, Ay.”
Ayyara kembali mendengkus kasar. “Aku nggak percaya, Mas! Kenapa kamu harus ngajak perempuan lain buat ngomongin urusan kerjaan? Kenapa nggak sama aku?”
Kini, giliran Abyan yang tersenyum sinis. “Bukannya kamu yang nggak mau?Dulu, aku sering banget minta pendapat kamu untuk urusan kerjaan aku di kantor, tapi apa jawabanmu? ‘Udahlah, Mas … nggak usah bahas kerjaan di rumah! Aku udah cukup repot dengan segala urusan anak-anak. Lagian, aku nggak ngerti juga soal kerjaan kamu’,” sindir Abyan, “lupa?” sentaknya.
Ayyara terperangah, dia tak pernah menyangka kalau Abyan masih mengingat perkataannya dulu. ‘Jadi, aku lagi yang menjadi penyebab semua ini terjadi?’ batinnya. “Ya, tapi bukan berarti harus membenarkan perbuatanmu itu, kan?” Ayyara masih membela diri.
“Memang aku ngapain, Ay? Nggak usah berlebihan, deh.” Abyan mulai terlihat kesal.
“Mas, please, deh! Oke, kalau menurutmu itu nggak berlebihan, tapi aku nggak suka, titik!”
Abyan tersenyum. Kemudian, dia berjalan ke arah meja yang ada di dalam kamar tersebut. “Iya, Sayang, maaf …,” ucapnya kembali lembut. Dia meletakkan foto-foto tadi ke atas meja. Lelaki ini memilih mengalah karena tidak ingin memperkeruh situasi dengan ikut-ikutan emosi.
Ekspresi wajah Ayyara perlahan berubah, sorot matanya terlihat lebih teduh. “Jadi, kamu setuju untuk tidak berhubungan lagi dengan wanita itu?”
Abyan membalikkan badan, kembali menghadap Ayyara. “Maafkan aku, Ay … untuk saat ini belum bisa, aku—”
Ayyara yang sudah melunak, kini kembali memberikan tatapan tajam. “Maksud kamu apa, Mas?”
Abyan mendekati Ayyara, dia berusaha untuk meraih bahu istrinya bermaksud mengajaknya duduk dulu untuk berbicara dengan kepala dingin. Namun, ibu dua anak ini langsung menepis tangannya sembari mundur beberapa langkah.
“Maaf Sayang, aku nggak bisa ninggalin dia sekarang karena sudah terlanjur janji pada ibunya,” Abyan menuturkan kalimatnya dengan sangat hati-hati.
“Apa, Mas? Memang hubungan kamu sama dia udah sejauh apa? Kok, sampai melibatkan ibunya segala?” tanya Ayyara kian sengit.
“Sejauh apa, gimana? Aku cuma membantunya dalam urusan kerjaan, kok, nggak lebih.”
“Halah, mana ada maling teriak maling. Aku nggak bego-bego amat, Mas! Emang bisa laki-laki dan perempuan berhubungan sedekat itu kalau nggak ada apa-apa? Kamu nggak lihat, tatapan dia ke kamu seperti apa?” cecar Ayyara kembali sinis.
“Terus aku harus  gimana, Ay? Aku udah terlanjur janji di depan ibunya sebelum dia meninggal.”
Ayyara membelalakan mata. “Maksud kamu apa, Mas? Kamu janji apa sama ibunya?” Suara Ayyara bergetar. Dadanya terasa seperti ditusuk-tusuk, kilatan peristiwa di hotel sebulan lalu berkelebat kembali di pikiran.
“Aku janji bakal bantuin dia sampai usahanya berhasil. Nggak salah, kan?”
Mulut Ayyara menganga tak percaya. “Nggak salah katamu? Kamu pikir, orang-orang yang lihat kebersamaan kalian, nggak akan mikir macam-macam?” sergah Ayyara mulai naik pitam.
“Ck, apa, sih, Ay? Sudah, deh.  Cukup, ya!” Abyan kembali terlihat kesal. “Nggak usah diperpanjang! Lagian, nggak ada yang aneh-aneh, kok.”
Ayyara tersenyum miring. “Kok bisa sih, Mas? Kamu nanggepinnya sesantai itu?”
“Terus aku harus gimana? Kayaknya cuma kamu, deh, yang nanggapin masalah ini secara berlebihan,” sindirnya. Kemudian, dia melangkah bermaksud untuk membersihkan diri ke kamar mandi, tapi baru juga akan bergerak tiba-tiba Ayyara melontarkan pertanyaan yang memancing kembali emosinya.
“Mas! Mau ke mana kamu? Pembicaraan kita belum selesai. Ah, atau jangan-jangan kamu udah nggak tahan pengin cepat-cepat ketemu dia lagi?”
“Ayyara!” bentak Abyan. Dia yang sejak tadi menahan diri, akhirnya kelepasan juga. Deru napasnya mulai memburu seiring dengan degup jantungnya yang berpacu cepat. Mulutnya yang terkatup rapat, bergerak-gerak seakan ingin melontarkan kata-kata kasar, tapi kemudian, dia teringat kejadian sebulan lalu. Abyan pun menarik napas berulang kali untuk menenangkan dirinya.
Ayyara langsung tertunduk mendengar bentakkan dari suaminya ini. Mata dia mulai berkaca-kaca. Suaminya ini sosok yang lemah lembut, jadi kalau sampai membentak seperti itu, artinya dia benar-benar marah.
Abyan mengurungkan niatnya ke kamar mandi. Dia malah berjalan menuju pintu keluar.
“Kk – kamu mau ke mana, Mas?” Suara Ayyara terbata-bata.
“Mengabulkan semua tuduhan yang memenuhi pikiranmu,” jawab Abyan asal.
“Maksud kamu, Mas?”
Abyan berhenti sejenak sambil memegangi gagang pintu. “Aku mau nikah siri dengan Lydia.”

Baca Juga:  Novel : Room for Two Bab 27: Lelaki yang Baik Hati
Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Part 30)

Berita Terkait

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:41 WIB

Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:38 WIB

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terbaru